MAKALAH TUGAS MANAJEMEN STRATEGIK “BSC” EVALLUASI DAN TINDAKAN PERBAIKAN


TUGAS
MANAJEMEN STRATEGIK
“BSC”
Nama kelompok IV :
v Cindy Novita Yoza
v Shindy Ramananda
v Ani Santia
v Rena Asmawati
v Nuzul Rahmi
v Rani Puspita


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
YAYASAN PASAMAN (YAPPAS)
2019



KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang berjudul "STRATEGIK dan BALANCED SCORECARD (BSC)” Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
    Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya.
  Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang "STRATEGIK dan BALANCED SCORECARD (BSC)”  dan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.



Ophir, 30 Desember 2019

          Kelompok







DAFTAR ISI
COVER
KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULIAN
A.    Latar belakang .......................................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................................................... 2
C.     Tujuan ....................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian BSC......................................................................................................... 3
B.     Langkah – Langkah BSC.......................................................................................... 3
C.     Empat Prefektif BSC................................................................................................. 4
D.    Tindakan perbaikan.................................................................................................... 6
E.     Evaluasi Strategi........................................................................................................ 7
·         Pengertian Evaluasi Strategi ............................................................................... 7
·         Empat kriteria Evaluasi Strategi........................................................................... 10
·         Proses Evaluasi Strategi....................................................................................... 10
·         Auditing............................................................................................................... 13
BAB III PENUTUP
A.    KESIMPULAN ........................................................................................................ 14
B.     SARAN .................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA                                                                                               








BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Perkembangan dunia bisnis yang semakin kompetitif menyebabkan perubahan  besar luar biasa dalam persaingan, produksi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia, dan penanganan transaksi antara perusahaan dengan pelanggan dan  perusahaan dengan perusahaan lain. Persaingan yang bersifat global dan tajam menyebabkan terjadinya penciutan laba yang diperoleh perusahaan-perusahaan yang memasuki persaingan tingkat dunia. Hanya perusahaan-perusahaan yang memiliki keunggulan pada tingkat dunia yang mampu memuaskan atau memenuhi kebutuhan konsumen, mampu menghasilkan produk yang bermutu, dan cost effevtive. Perubahan-perubahan tersebut mendorong perusahaan untuk mempersiapkan dirinya agar bisa diterima di lingkungan global. Keadaan ini memaksa manajemen untuk berupaya menyiapkan, menyempurnakan ataupun mencari strategi-strategi baru yang menjadikan perusahaan mampu bertahan dan berkembang dalam persaingan tingkat dunia. Oleh karena itu perusahaan dalam hal ini manajemen harus mengkaji ulang prinsip-prinsip yang selama ini digunakan agar dapat bertahan dan bertumbuh dalam persaingan yang semakin ketat untuk dapat menghasilkan produk dan jasa bagi masyarakat. Kunci persaingan dalam pasar global adalah kualitas total yang mencakup  penekanan - penekanan pada kualitas produk, kualitas biaya atau harga, kualitas  pelayanan, kualitas penyerahan tepat waktu, kualitas estetika dan bentuk-bentuk kualitas lain yang terus berkembang guna memberikan kepuasan terus menerus kepada pelanggan agar tercipta pelanggan yang loyal.
Sehingga meningkatnya  persaingan bisnis memacu manajemen untuk lebih memperhatikan sedikitnya dua hal  penting yaitu "keunggulan" dan "nilai". Penilaian atau pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang penting dalam perusahaan. Selain digunakan untuk menilai keberhasilan perusahaan,  pengukuran kinerja juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan sistem imbalan dalam perusaan, misalnya untuk menentukan tingkat gaji karyawan maupun reward yang layak. Pihak manajemen juga dapat menggunakan pengukuran kinerja  perusahaan sebagai alat untuk mengevaluasi pada periode yang lalu.
Dalam akuntansi manajemen dikenal alat analisis yang bertujuan untuk menunjang proses manajemen yang disebut dengan Balanced Scorecard. Balanced Scorecard tidak hanya sekedar alat pengukur kinerja perusahaan tetapi merupakan suatu bentuk transformasi strategik secara total kepada seluruh tingkatan dalam organisasi. Dengan pengukuran kinerja yang komprehensif tidak hanya merupakan ukuran-ukuran keuangan tetapi penggabungan ukuran-ukuran keuangan dan non keuangan maka perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan lebih baik.

B. Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud dengan Balanced Scorecard (BSC)?
2)      Apa saja Langkah – Langkah dalam menyusun Balance Scorecard ?
3)       Mengetahui empat Perspektif dari Balance Scorecard.
4)       Mengetahui Tindakan Perbaikan dalam menggunakan Balanced Scorecard.
5)       Mengetahui Evaluasi BSC Pada Perusahaan.

C. Tujuan
1)      Untuk Mengetahui Apa yang dimaksud dengan Balanced Scorecard (BSC)?
2)      Untuk Mengetahui Apa saja Langkah – Langkah dalam menyusun BSC ?
3)       Untuk Mengetahui empat Perspektif dari Balance Scorecard.
4)       Untuk Mengetahui Tindakan Perbaikan dalam menggunakan Balanced Scorecard.
5)       M Untuk Mengetahui Evaluasi BSC Pada Perusahaan.

















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Balanced Scorecard
      Balanced Scorecard merupakan suatu sistem manajemen strategik atau lebih tepat dinamakan " Strategic Based Responsibility Accounting System ” yang menjabarkan misi dan strategi suatu organisasi ke dalam tujuan operasional dan tolok ukur kinerja perusahaan tersebut. Balanced Scorecard terdiri dari dua kata yaitu balanced dan scorecard. Scorecard artinya kartu skor, maksudnya adalah kartu skor yang akan digunakan untuk merencanakan skor yang diwujudkan di masa yang akan datang, sedangkan Balanced artinya berimbang, maksudnya adalah untuk mengukur kinerja seseorang atau organisasi diukur secara berimbang dari dua perspektif yaitu keuangan dan non keuangan, jangka pendek dan jangka panjang, intern dan ekstern (Mulyadi, 2005).
     Balanced Scorecard merupakan suatu system management strategi yang menjabarkan visi dan strategi suatu perusahaan ke dalam tujuan operasional dan tolak ukur. Tujuan dan tolak ukur dikembangkan untuk setiap 4 (empat) perspektif yaitu : Perspektif Keuangan, Perspektif Pelanggan, Perspektif Proses Usaha Internal dan Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan.
B.     Langkah - Langkah Balanced Scorecard
Langkah-langkah Balanced Scorecard meliputi empat proses manajemen baru. Pendekatan ini mengkombinasikan antara tujuan strategi jangka panjang dengan  peristiwa jangka pendek. Kempat proses tersebut menurut (Kaplan dan Norton, 1996) antara lain :
1.      Menterjemahkan visi, misi dan strategi perusahaan.
       Untuk menentukan ukuran kinerja, visi organisasi dijabarkan dalam tujuan dan sasaran. Visi adalah gambaran kondisi yang akan diwujudkan oleh  perusahaan di masa datang. Tujuan juga menjadi salah satu landasan bagi  perumusan strategi untuk mewujudkannya. Dalam proses perencanaan strategik, tujuan ini kemudian dijabarkan dalam sasaran strategik dengan ukuran pencapaiannya.
2.      Mengkomunikasikan dan mengaitkan berbagai tujuan dan ukuran strategis  balanced scorecard.
        Dapat dilakukan dengan cara memperlihatkan kepada tiap karyawan apa yang dilakukan perusahaan untuk mencapai apa yang menjadi keinginan  para pemegang saham dan konsumen. Hal ini bertujuan untuk mencapai kinerja karyawan yang baik.
3.      Merencanakan, menetapkan sasaran, menyelaraskan berbagai inisiatif rencana bisnis.
        Memungkinkan organisasi mengintegrasikan antara rencana bisnis dan rencana keuangan mereka. Balanced scorecard sebagai dasar untuk mengalokasikan sumber daya dan mengatur mana yang lebih penting untuk diprioritaskan, akan menggerakkan kearah tujuan jangka panjang  perusahaan secara menyeluruh.
4.      Meningkatkan umpan balik dan pembelajaran strategis
       Proses keempat ini akan memberikan strategis learning kepada  perusahaan. Dengan balanced scorecard sebagai pusat sistem perusahaan, maka perusahaan melakukan monitoring terhadap apa yang telah dihasilkan perusahaan dalam jangka pendek.
C.     Empat Perspektif Balanced Scorecard
       Balanced Scorecard adalah konsep yang mengukur kinerja suatu organisasi dari empat perspektif yaitu perspektif finansial, perspektif customer, perspektif proses  bisnis internal, perspektif pertumbuhan dan pembelajaran. Konsep Balanced Scorecard ini pada dasarnya merupakan penerjemahan strategi dan tujuan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan dalam jangka panjang, yang kemudian diukur dan dimonitor secara berkelanjutan. Menurut Kaplan dan Norton (1996), Balanced Scorecard memiliki empat  perspektif, antara lain :
a.       Perspektif Keuangan ( financial perspective )
       Balanced Scorecard menggunakan tolok ukur kinerja keuangan, seperti laba bersih dan ROI (Return on Investment), karena tolok ukur tersebut secara umum digunakan dalam organisasi yang mencari keuntungan /  profit. Tolok ukur keuangan memberikan bahasa umum untuk menganalisis perusahaan. Orang-orang yang menyediakan dana untuk  perusahaan, seperti lembaga keuangan dan pemegang saham, sangat mengandalkan tolok ukur kinerja keuangan dalam memutuskan hal yang  berhubungan dengan dana. Tolok ukur keuangan yang didesign dengan baik dapat memberikan gambaran yang akurat untuk keberhasilan suatu organisasi. Tolok ukur keuangan adalah penting, akan tetapi tidak cukup untuk mengarahkan kinerja dalam menciptakan nilai (value). Tolok ukur non keuangan juga tidak memadai untuk menyatakan angka paling bawah (bottom line). Balanced scorecard mencari suatu keseimbangan dari tolok ukur kinerja yang multiple, baik keuangan maupun non keuangan untuk mengarahkan kinerja organisasional terhadap keberhasilan.
b.      Perspektif Pelanggan ( customer perspective )
        Perspektif pelanggan berfokus pada bagaimana organisasi memperhatikan pelanggannya agar berhasil. Mengetahui pelanggan dan harapan mereka tidaklah cukup, suatu organisasi juga harus memberikan insentif kepada manajer dan karyawan yang dapat memenuhi harapan  pelanggan. Bill Mariot mengatakan "Take care of your employee and they take care of your customer”. Perhatikan karyawan anda dan mereka akan memperhatikan pelanggan anda. Perusahaan umumya menggunakan tolok ukur kinerja berikut, pada waktu mempertimbangkan perspektif pelanggan yaitu :
·         Kepuasan pelanggan (customer satisfaction)
·         Retensi pelanggan (customer retention)
·         Pangsa Pasar (market share)
·         Pelanggan yang profitable

c.       Perspektif proses usaha internal (internal business process perspective)
           Terdapat hubungan sebab akibat antara perspektif pembelajaran dan  pertumbuhan dengan perspektif usaha internal dan proses produksi. Karyawan yang melakukan pekerjaan merupakan sumber ide baru yang terbaik untuk proses usaha yang lebih baik. Hubungan pemasok adalah kritikal untuk keberhasilan, khususnya dalam usaha eceran dan perakitan manufacturing. Perusahaan tergantung pemasok mengirimkan barang dan jasa tepat pada waktunya, dengan harga yang rendah dan dengan mutu yang tinggi. Perusahaan dapat berhenti berproduksi apabila terjadi  problema dengan pemasok. Pelanggan menilai barang dan jasa yang diterima dapat diandalkan dan tepat pada waktunya. Pemasok dapat memuaskan pelanggan apabila mereka memegang jumlah persediaan yang  banyak untuk meyakinkan pelanggan bahwa barang-barang yang diminati tersedia ditangan. Akan tetapi biaya penanganan dan penyimpanan persediaan menjadi tinggi, dan kemungkinan mengalami keusangan persediaan. Untuk menghindari persediaan yang berlebihan, alternatif yang mungkin adalah membuat pemasok mengurangi throughput time. Throughput time adalah total waktu dari waktu pesanan diterima oleh perusahaan sampai dengan  pelanggan menerima produk. Memperpendek throughput time dapat  berguna apabila pelanggan menginginkan barang dari jasa segera mungkin.
d.      Perspektif pembelajaran dan pertumbuhan (learn and growth infrastructure perspective)
Untuk tujuan insentif, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan  berfokus pada kemampuan manusia. Manajer bertanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan karyawan. Tolok ukur kunci untuk menilai kinerja manajer adalah kepuasan karyawan, retensi karyawan, dan  produktivitas karyawan. Kepuasaan karyawan mengakui bahwa moral karyawan adalah penting untuk memperbaiki produktivitas, mutu, kepuasan pelanggan, dan ketanggapan terhadap situasi. Manajer dapat mengukur kepuasan karyawan dengan mengirim survei, mewawancarain karyawan, mengamati karyawan pada saat bekerja.
D.    Tindakan Perbaikan  Balanced Scorecard
                  Organisasi sangat membutuhkan untuk menerapkan Balanced Sorecard sebagai satu set ukuran kinerja yang multi dimensi. Hal ini mencerminkan kebutuhan untuk mengukur semua bidang kinerja yang penting bagi keberhasilan organisasi. Pendekatan yang paling luas dikenal sebagai pengukuran kinerja. Balanced Scorecard sekarang banyak digunakan sebagai untuk pengembangan strategi dan sebagai alat eksekusi yang dikembangkan dalam lingkungan operasional. Balanced Scorecard menerjemahkan visi dan misi serta strategi perusahaan ke dalam seperangkat ukuran kinerja yang dimengerti (indikator), sehingga strategi dapat dipahami, dikomunikasikan dan diukur, dengan demikian, berfungsi untuk semua kegiatan. Selain itu, indikator memungkinkan pemantauan tingkat akurasi pelaksanaan strategi (Kaplan & Norton, 1996). Balanced Scorecad telah banyak diterapkan sebagai alat ukur kinerja baik dalam bisnis manufaktur dan jasa. Penerapannya adalah dengan  berfokus pada empat perspektif Balanced Scorecard. Pembahasan mengenai  pengukuran kinerjadengan menggunakan Balanced Scorecard lebih sering dilakukan dalam konteks penerapannya pada perusahaan atau organisasi yang bertujuan mencari laba (profit-seeking organisations). Jarang sekali ada pembahasan mengenai penerapan Balanced Scorecard pada organisasi nirlaba (not-for-profit organisations) atau organisasi dengan karakteristik khusus seperti koperasi, yang ditandai relational contracting, yakni saat owner dan consumer adalah orang yang sama, serta di mana mutual benefit anggota menjadi  prioritasnya yang utama (Merchant, 1998). Pada organisasi-organisasi semacam ini, keberhasilan haruslah lebih didasarkan pada kesuksesan pencapaian misi secara luas daripada sekedar perolehan keuntungan. Pengukuran aspek keuangan ternyata tidak mampu menangkap aktivitas-aktivitas yang menciptakan nilai (value-creating activities) dari aktiva-aktiva tidak  berwujud seperti :
§  Keterampilan, kompetensi, dan motivasi para pegawai
§  Database dan teknologi informasi
§  Proses operasi yang efisien dan responsif
§  Inovasi dalam produk dan jasa
§  Hubungan dan kesetiaan pelanggan
§  Adanya dukungan politis, peraturan perundang-undangan, dan dari masyarakat (Kaplan dan Norton, 2000)
           Dengan Balanced Scorecard para manajer perusahaan akan mampu mengukur  bagaimana unit bisnis mereka melakukan penciptaan nilai saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan-kepentingan masa yang akan datang. Balanced Scorecard memungkinkan untuk mengukur apa yang telah diinvestasikan dalam  pengembangan sumber daya manusia, sistem dan prosedur, demi perbaikan kinerja di masa depan. Melalui metode yang sama dapat dinilai pula apa yang telah dibina dalam intangible assets seperti merk dan loyalitas pelanggan.
E.     EVALUASI STRATEGI
§  Pengertian Evaluasi
  Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah.
Tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah :
a)      Meninjau factor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi yang sekarang,
b)      Mengukur prestasi,
c)      Mengambil tindakan korektif.Aktivitas perumusan startegi, implementasi dan evaluasi terjadi di tiga tingkat hirarki dalam organisasi yang besar, korporasi, divisi atau unit bisnis strategis, dan fungsional.
Perusahaan bisnis multidivisional yang biasanya besar, memiliki tiga level strategi :
v  Strategi korporasi mengambarkan arah perusahaan secara keseluruhan mengenai sikap perusahaan secara umum terhadap arah pertumbuhan dan manajemen berbagai bisnis dan lini produk untuk mencapai keseimbangan portofolio produk dan jasa.
v  Strategi bisnis atau strategi bersaing, biasanya dikembangkan pada level divisi dan menekankan pada perbaikan posisi persaingan produk barang atau jasa perusahaan dalam industri khusus atau segmen pasar yang dialyani oleh divisi tersebut.
v  Strategi fungsional menekankan terutama pada pemaksimalan sumber daya produktivitas. Dalam batasan perusahaan dan strategi bisnis yang berada di sekitar mereka, departemen fungsional mengembangkan strategi untuk mengumpulkan bersama-sama berbagai aktivitas dan kompetensi mereka guna memperbaiki kinerja.

·         Hakekat Evaluasi Strategi
Proses manajemen strategis menghasilkan keputusan yang dapat mempunyai konsekwensi yang signifikan dan jangka panjang. Keputusan strategis yang salah dapat menimbulkan kerugian besar, yang akan sulit sekali untuk memperbaikinya.
Oleh karena itu banyak perencana strategi sepakat bahwa mengevaluasi strategi sangat penting untuk kehidupan organisasi; evaluasi yang tepat waktu dapat memperingatkan manajemen akan adanya masalah atau potensi masalah sebelum menjadi kritis.
            Evaluasi strategi bisa merupakan proses yang rumit dan sensitif. Terlalu banyak kegiatan mengevaluasi strategi dapat menghabiskan biaya yang sangat mahal dan bisa jadi kontra produktif. Evaluasi strategi penting untuk memastikan tujuan-tujuan strategi yang dapat ditetapkan dapat tercapai.
a)      Kegiatan Evaluasi strategi
Mengkaji landasan strategi bisnis/perusahaan Membandingkan hasil yang diharapkan dengan kenyataan Mengambil tindakan korektif untuk memastikan bahwa kinerja sesuai dengan rencana
b)      Kreteria Evaluasi Strategi
Konsistensi; sebuah strategi tidak boleh memiliki tujuan dan kebijakan yang tidak konsisten. Kelayakan; sebuah strategi tidak boleh terlalu banyak membebani sumberdaya yang ada maupun tidak boleh menciptakan sub masalah yang tidak dapat dipecahkan Kesesuaian; kesesuaian mengacu pada kebutuhan para perencana strategi untuk mengkaji serangkaian trend maupun masing-masing tren dalam mengevaluasi strategi.Keunggulan, sebuah strategi harus mendorong penciptaan dan/atau mempertahankan keunggulan kompetitif dibidang kegiatan tertentu.
c)      Alasan perlunya Evaluasi Strategi
Semakin kompleknya masalah lingkunganSemakin sulitnya memprediksi masa organisasi. Berkurangnya rentang waktu dimana perencanaan dapat dilakukan dengan tingkat ketepatan tertentu.
d)     Proses Evaluasi Strategi
Evaluasi strategi harus mempertanyakan harapan dan asumsi manjerial, harus memicu tinjauan sasaran dan nilai dan harus merangsang kreativitas dalam menghasilkan alternative dan memformulasikan kreteria evaluasi.Evaluasi strategi harus dilak asnakan secara berkelanjutan, bukannya diakhir periode waktu tertentu atau hanya setelah terjadi masalah
e)      Mengkaji ulang Landasan strategi
Mengembangkan matrik EFE dan EFI yang telah direvisi. Matrik EFI yang sudah direvisi harus fokus pada perubahan dalam kekuatan dan kelemahan manajemen, pemasaran, keuangan/akunting, produksi/operasi, litbang dan SIM Matrik EFE yang sudah direvisi harus menujukkan seberapa efektif strategi perusahaan dalam merespon peluang dan ancaman utama.
f)       Mengukur Kinerja Organiasi
Aktifitas ini termasuk membandingkan hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya, menyelidiki penyimpangan dari rencana, mengevaluasi prestasi individual dan menyimak kemajuan yang dibuat kearah pencapaian sasaran yang dinyatakan. Sasaran jangka panjang dan sasaran tahunan biasanya dipakai dalam proses ini. Kreteria untuk mengevaluasi strategi harus dapat diukur dan mudah dibuktikan. Evaluasi strategi didasarkan pada kreteria kuantitatif maunpun kualitatif Kreteria kuantitatif biasanya digunakan untuk mengevaluasi strategi adalah rasio keuangan; ROI, ROE, Laba per saham, pertumbuhan asset, pangsa pasar, dll.
·         Empat Kriteria dalam Evaluasi Strategi
Menurut Richard Rumelt (1980) :
1.    Kesesuaian ( consonance)
2.    Keunggulan ( advantage )
3.    Konsistensi ( consistency )
4.    Kelayakan ( feasibility )
Kesesuaian :
ü Perlunya mencermati serangkaian trend, termasuk trend individu
ü Kebanyakan tren merupakan hasil interaksi antar tren
Keunggulan :
Keunggulan kompetitif biasanya merupakan hasil dari keunggulan sumber daya, keterampilan dan posisi
Konsistensi :
Tiga pedoman yang mendasari konsistensi strategi, yaitu persoalan manajerial, keberhasilan departemen dan isu kebijakan organisasi
— Alasan mengapa evaluasi strategi sulit ?
1.    Meningkatnya kompleksitas lingkungan
2.    Sulit memprediksi masa depan secara akurat
3.    Bertambahnya jumlah variabel
4.    Cepatnya laju pengusangan suatu rancangan
5.    Kejadian dalam negeri dan dunia yang mempengaruhi organisasi
6.    Berkurangnya rentang waktu dalam menjalankan perencanaan
— Proses Evaluasi Strategi
ü Evaluasi strategi merangsang sikap kritis terhadap ekspektasi dan asumsi yang ada, pengkajian ulang atas tujuan dan nilai- nilai, serta merangsang kreativitas untuk menghasilkan alternatif dan merumuskan kriteria evaluasi
ü Evaluasi strategi harus dijalankan secara kontinyu sehingga cepat mengambil tindakan korektif bila diperlukan.
Proses evaluasi strategi terdapat 3 aktivitas :
A.  Mengkaji Ulang Landasan Strategi
ü  Buat revisi Matriks Evaluasi Faktor Internal (IFE): Kekuatan & Kelemahan
ü  Bandingkan Matriks IFE revisi dengan yang sudah ada
ü  Buat revisi Matriks Evaluasi Faktor Eksternal (EFE): Peluang & Ancaman
ü  Bandingkan Matriks EFE revisi dengan yang sudah ada
B.  Mengukur Kinerja Organisasi
            Mencakup aktivitas pembandingan hasil yang diharapkan dengan hasil yang sebenarnya, penyelidikan terhadap penyimpangan dari rencana, evaluasi kinerja individu, dan pengamatan kemajuan yang telah dibuat ke arah pencapaian tujuan yang tersurat
ü Mengukur Kinerja Organisasi
Kriteria Kuantitatif  berdasarkan tiga perbandingan :
1.    Perbandingan kinerja dari waktu ke waktu
2.    Perbandingan kinerja dengan kinerja pesaing
3.    Perbandingan kinerja dengan rata-rata industri
Kriteria kuantitatif Rasio Keuangan :
1.    Pengembalian atas Investasi / ROI
2.    Pengembalian ata Ekuitas / ROE
3.    Marjin Laba
4.    Pangsa Pasar
5.    Pertumbuhan Penjualan
6.    Pertumbuhan Asset
7.    Laba Per Saham
8.    Utang terhadap ekuitas
Persoalan potensial dalam penerapan Evaluasi strategi dengan kriteria kuantitatif :
*      Kriteria kuntitatif sebagian besar menjadi dasar dalam penentuan tujuan tahunan dan tujuan jangka panjang
*      Metode akuntansi yang berbeda bisa memberikan hasil yang berbeda
*      Penilaian intiutif hampir selalu ada dalam dalam penentuan kriteria kuantitatif
Kriteria Kualitatif :
      Perputaran karyawan (turnover)
      Tingkat kualitas produk
      Kepuasan karyawan
      Pemasaran
      Penelitian dan Pengembangan
     Sistem Informasi Manajemen
C.Tindakan Korektif
·         Diperlukan untuk membuat organisasi tetap berada pada jalur tujuan.
·         Mendorong organisasi  berhasil beradaptasi dengan lingkungan yang sedang berubah.
·         Tindakan korektif harus membawa organisasi  ke posisi yang lebih baik dengan memanfaatkan kekuatan internal, mengambil keuntungan peluang eksternal utama, mengurangi /menghindari  ancaman eksternal, dan memperbaiki kelemahan internal.



Contoh  - contoh tindakan korektif :
      Perubahan struktur organisasi
      Pergantian karyawan
      Penjualan saham untuk menggalang modal
      Penciptaan kebijakan baru
      Penetapan atau revisi tujuan
      Penambahan tenaga penjualan,dll.
D. Auditing
Proses sistematis untuk secara objektif memperoleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dengan penilaian mengenai tindakan dan kejadian ekonomi untuk memastikan derajat kesesuaian antara penilaian tersebut dengan kriteria yang ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengguna.
Audit lingkungan harus dijalankan dengan praktek – praktek yang sehat dan aman.











BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
              Pengembangan BSC kedalam setiap bentuk organisasi baik profit dan nonprofit memang memungkinkan dengan sedikit modifikasi pada implementasi misi dan perspektif prioritas yang diinginkan seperti perspektif finansial digantikan oleh  perspektif pemenuhan kualitas pelanggan. BSC adalah metoda yang cukup fleksibel diterapkan perusahaan yang ingin tidak hanya sekedar mengukur aspek finansial semata namun ingin mengetahui parameter pendukung kesuksesan finansial organisasi dimasa datang, sehingga sustainabilitas organisasi dapat lebih terjamin. Untuk menerjemahkan prinsip BSC kedalam indikator pengelolaan sumber daya alam lingkungan perlu dilakukan secara hati-hati agar benar-benar mampu terintegrasi dengan aktifitas bisnis organisasi tersebut. Hal ini terkait dengan jaringan infrastruktur informasi yang ada dan kuat tidaknya budaya yang melekat dalam organisasi tersebut.
      Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah.
B.     SARAN
              Semoga berjalannya BSC dan memiliki strategi yang dapat memicu BSC agar tercapai tujuannya dan mendapatkan keuntungan atau Profit, dan supaya perusahaan yang belum menetapkan BSC supaya cepat menerapkannya agar dapat menjadikan perusahaan keuntungan dengan jangka panjang atau jangka pendek.





DAFTAR PUSTAKA
yuvensandy.blogspot.co.id/2014/05/normal-0-false-false-false-in-x-none-x_8.html


Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN MAGANG DI KANTOR URUSAN AGAMA PADA BAGIAN ADMINISTRASI

MAKALAH FETAL SKULL FETAL POSITIONING MEKANISME PERSALINAN PRESENTASI VERTEX (OKSIPUT ANTERIOR DAN OKSIPUT POSTERIOR)

MAKALAH “Deteksi Dini Gangguan Psikologi Pada Masa Nifas