MAKALAH MANAJEMEN PENGOLAHAN HASIL


TUGAS
MANAJEMEN PEMASARAN DAN TEORI PEMASARAN
KELOMPOK VI
1.     Shindy Ramananda
2.     Aldo Mahera
3.     Anisya Bainazam
4.     Dwiki Dabela Yohanes



SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
YAYASAN PASAMAN (YAPPAS)
2019





KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan makalah yang berjudul PENGELOLAAN BISNIS ASURANSI, makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen asuransi
Tim Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, tim penyusun sangat mengharapkan pengertian dari pembaca.Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi pembaca. Amiin.....




Simpang Tiga, 11 Desember 2019


Kelompok









BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG
Sektor pertanian telah memberikan sumbangan yang nyata dalam perekonomian nasional yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia,mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, menyediakan lapangan kerja, dan menyeimbangkan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.Sebagai sektor ekonomi, pertanian mempunyai fungsi yaitu: menghasilkan bahan pangan, pakan, agroindustri dan bioenergi; meningkatkan kapabilitas petani dan keluarganya; menghasilkan devisa, pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian, serta membantu menjaga keseimbangan lingkungan dengan praktek usahatani yang ramah lingkungan. (Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, 2014 : 1).
Sektor pertanian terbagi ke dalam beberapa subsektor. Salah satunya adalah subsektor tanaman perkebunan. Komoditas perkebunan mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan banyak diperlukan oleh pasar domestik dan pasar internasional. Perkebunan sebagai sektor andalan perekonomian Indonesia tidak lepas dari permasalahan yang harus dihadapi antara lain masih rendahnya kualitas hasil (produk) yang diperoleh dari usaha perkebunan, baik itu produk primer maupun produk sekunder. Kualitas produk primer yang kurang baik akan berdampak pada kualitas hasil pengolahan sekundernya. Hal ini dapat mengakibatkan permasalahan dalam pemasaran produk komoditas perkebunan. Rendahnya mutu selain karena pengaruh perlakuan budidaya, juga karena penanganan pascapanen yang belum diterapkan sesuai standar. Kegiatan penanganan pascapanen tanaman perkebunan di tingkat petani umumnya masih dilakukan secara tradisional dan menggunakan alat yang sederhana, dan diperparah lagi dengan panen yang dilakukan tidak tepat waktu sehingga mempengaruhi mutu hasil (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian, 2014 : 1).





B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana bentuk pengolhan hasil. 
2.      Bagaimana perencanaan. 
3.      Bagaimana pengorganisasian.
4.      Bagaimana pelaksanaan.
5.      Bagaimana pengawasan. 
6.      Bagaimana Mengetahui kasus

C.     TUJUAN
1.      Untuk mengetahui bentuk pengolhan hasil. 
2.      Untuk mengetahui perencanaan pengolhan hasil
3.      Untuk mengetahui pengorganisasian pengolhan hasil
4.      Untuk mengetahui pelaksanaan pengolhan hasil
5.      Untuk mengetahui pengawasan pengolhan hasil
6.      Untuk mengetahui kasus pengolhan hasil












BAB II
PEMBAHASAN
A.    Bentuk pengolahan hasil
1.   Suhu Tinggi
v   Suhu tinggi diterapkan baik dalam pengawetan maupun dalam pengolahan pangan.
v   Memasak, menggoreng, memanggang, dan lain-lain adalah cara-cara pengolahan yang menggunakan panas.
v   Proses-proses tersebut membuat makanan menjadi lebih lunak, dan lebih awet.
v   Pemberian suhu tinggi pada pengolahan dan pengawetan pangan didasarkan kepada kenyataan bahwa pemberian panas yang cukup dapat membunuh sebagian besar mikroba dan menginaktifkan enzim.
v   Pemanasan mengakibatkan efek mematikan terhadap mikroba. Efek yang ditimbulkannya tergantung dari intensitas panas dan lamanya  pemanasan.
Makin tinggi suhu yang digunakan, makin singkat waktu pemanasan yang digunakan untuk mematikan mikroba.
2.   Blansing
Blansing merupakan suatu cara pemanasan pendahuluan atau perlakuan pemanasan tipe pasteurisasi yang dilakukan pada suhu kurang dari 1000C selama beberapa menit, dengan menggunakan air panas atau uap. Biasanya suhu yang digunakan sekitar 82 – 93 oC selama 3 – 5 menit. Contoh blansing misalnya mencelupkan sayuran atau buah dalam air mendidih selama 3 – 5 menit atau mengukusnya selama 3 – 5 menit.
Tujuan utama blansing ialah menginaktifan enzim diantaranya enzim peroksidase dan katalase, walaupun sebagian dari mikroba yang ada dalam bahan juga turut mati. Kedua jenis enzim ini paling tahan terhadap panas.
Blansing biasanya dilakukan terhadap sayur-sayuran dan buah-buahan yang akan dikalengkan atau dikeringkan.
Di dalam pengalengan sayur-sayuran dan buah-buahan, selain untuk menginaktifkan enzim, tujuan blansing yaitu :
a.  Membersihkan bahan dari kotoran dan mengurangi jumlah mikroba dalam bahan
b. Mengeluarkan atau menghilangkan gas-gas dari dalam jaringan tanaman, sehingga mrngurangi terjadinya pengkaratan kaleng dan memperoleh keadaan vakum yang baik dalam “headspace” kaleng.
c.  Melayukan atau melunakkan jaringan tanaman, agar memudahkan pengisian bahan ke dalam wadah
d.  Menghilangkan bau dan flavor yang tidak dikehendaki
e.   Menghilangkan lendir pada beberapa jenis sayur-sayuran
f.    Memperbaiki warna produk antara lainmemantapkan warna hijau sayur-sayuran.
Cara melakukan blansing ialah dengan merendam dalam air panas (merebus) atau dengan uap air (mengukus atau dinamakan juga “steam blanching”).  Merebus yaitu memasukkan bahan ke dalam panci yang berisi air mendidih. Sayur-sayuran atau buah-buahan yang akan diblansing dimasukkan ke dalam keranjang kawat, kemudian dimasukkan ke dalam panci dengan suhu blansing biasanya mencapai 82 – 83oC selama 3 – 5 menit. Setelah blansing cukup walktunya, kemudian keranjang kawat diangkat dari panci dan cepat-cepat didinginkan dengan air. Pengukusan tidak dianjurkan untuk sayur-sayuran hijau, karena warna bahan akan menjadi kusam. Caranya ialah dengan mengisikan bahan ke dalam keranjang kawat, kemudian dimasukkan ke dalam dandang yang berisi air mendidih.
3.   Pasteurisasi
Pasteurisasi merupakan suatu proses pemanasan bahan pangan sampai suatu suhu tertentu untuk membunuh mikroba patogen atau penyebab penyakit seperti bakteri penyebab penyakit TBC, disentri, diare, dan penyakit perut lainnya. Dengan pasteurisasi masih terdapat mikroba, sehingga bahan pangan yang telah dipasteurisasi mempunyai daya tahan simpan yang singkat.
Tujuan pasteurisasi yaitu :    
·         Membunuh semua bakteri patogen yang umum dijumpai pada bahan pangan bakteribakteri patogen yang berbahaya ditinjau dari kesehatan masyarakat
·         Memperpanjang daya tahan simpan dengan jalan mematikan bakteri dan menginaktifkan enzim.
Mikroba terutama mikroba non patogen dan pembusuk masih ada pada bahan yang dipasteurisasi dan bisa berkembang biak. Oleh karena itu daya tahan simpannya tidak lama. Contohnya : susu yang sudah dipasteurisasi bila disimpan pada suhu kamar hanya akan tahan 1 – 2 hari, sedangkan bila disimpan dalam lemari es tahan kira-kira seminggu. Karena itu untuk tujuan pengawetan, pasteurisasi harus dikombinasikan dengan cara pengawetan lainnya, misalnya dengan pendinginan. Pasteurisasi biasanya dilakukan pada susu, juga pada saribuah dan suhu yang digunakan di bawah 100 ˚C. Contohnya:1). Pasterurisasi susu dilakukan pada suhu 61 – 63 0C selama 30 menit; 2). Pasteurisasi saribuah dilakukan pada suhu 63 – 74 0C selama 15 – 30 menit.
Pasteurisasi pada sari buah dan sirup dapat dilakukan dengan cara “hot water bath”. Pada cara “hot water bath”, wadah yang telah diisi dengan bahan dan ditutup (sebagian atau rapat) dimasukkan ke dalam panci terbuka yang diisi dengan air. Beberapa cm (2,5 – 5,0 cm) di bawah permukaan wadah. Kemudian air dalam panci dipanaskan sampai suhu di bawah 100 0C ( 71 – 85 0C ), sehingga aroma dan flavor tidak banyak berubah.
4.   Sterilisasi
Sterilisasi adalah proses termal untuk mematikan semua mikroba beserta sporasporanya. Spora-spora bersifat tahan panas, maka umumnya diperlukan pemanasan selama 15 menit pada suhu 121 ˚C atau ekivalennya , artinya semua partikel bahan pangan tersebut harus mengalami perlakuan panas. Mengingat bahwa perambatan panas melalui kemasan (misalnya kaleng, gelas) dan bahan pangan memerlukan waktu, maka dalam prakteknya pemanasan dalam autoklaf akan membutuhkan waktu lebih lama dari 15 menit. Selama pemanasan dapat terjadi perubahanperubahan kualitas yang tidak diinginkan. Untungnya makanan tidak perlu dipanaskan hingga steril sempurna agar aman dan memiliki daya tahan simpan yang cukup lama. Semua makanan kaleng umumnya diberi perlakuan panas hingga tercapai keadaan steril komersial . Biasanya daya tahan simpan makanan yang steril komersial adalah kira-kira 2 tahun. Kerusakan-kerusakan yang terjadi biasanya bukan akibat pertumbuhan mikroba, tetapi karerna terjadi kerusakan pada sifat-sifat organoleptiknya akibat reaksi-reaksi kimia.
Pemanasan dengan sterilisasi komersial umumnya dilakukan pada bahan pangan yang sifatnya tidak asam atau bahan pangan berasam rendah. Yang tergolong bahan pangan ini adalah bahan pangan hewani seperti daging, susu, telur, dan ikan serta beberapa jenis sayuran seperti buncis dan jagung. Bahan pangan berasam rendah mempunyai risiko untuk mengandung bakteri Clostridium botulinum, yang dapat menghasilkan racun yang mematikan jika tumbuh dalam makanan kaleng. Oleh karena itu spora bakteri tersebut harus dimusnahkan dengan pemanasan yang cukup tinggi. Sterilisasi komersial adalah pemanasan pada suhu 121,1 ˚C selama 15 menit dengan menggunakan uap air bertekanan, dilakukan dalam autoklaf. Tujuan sterilisasi komersial terutama untuk memusnahkan spora bakteri patogen termasuk spora bakteri C. Botulinum.
5.   Pendinginan
Pendiginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 -10 0C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan. Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12 - 24 0C. Pembekuan cepat (quick freezing) di lakukan pada suhu -24 - 40 0C (Winarno, 1993).
Pendinginan biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun.
Perbedaan lain antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali (thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali.Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa, tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya.Beberapa bahan pangan menjadi rusak pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah.

6.   Fermentasi
Proses fermentasi dalam pengolahan pangan adalah proses pengolahan panan dengan menggunakan aktivitas mikroorganisme secara terkontrol untuk meningkatkan keawetan pangan dengan dioproduksinya asam dan/atau alkohol, untuk menghasilkan produk dengan karekateristik flavor dan aroma yang khas, atau untuk menghasilkan pangan dengan mutu dan nilai yang lebih baik  (Winarno, 1993). Contoh-contoh produk pangan fermentasi ini bermacam-macam; mulai dari produk tradisional (misalnya tempe, tauco, tape) sampai kepada produk yang modern (misalnya salami dan yoghurt).
Proses fermentasi dalam pengolahan pangan mempunyai beberapa keuntungan-keuntungan, antara lain:
1. Proses fermentasi dapat dilakukan pada kondisi pH dan suhu normal, sehingga tetap mempertahankan (atau sering bahkan meningkatkan) nilai gizi dan    organoleptik produk pangan.
2  Karakteristik flavor dan aroma produk yang dihasilkan bersifat khas, tidak dapat diproduksi dengan teknik/metoda pengolahan lainnya.
3. Memerlukan konsumsi energi yang relatif rendah karena dilakukan pada kisaran suhu normal,
4. Modal dan biaya operasi untuk proses fermentasi umumnya rendah, dan teknologi fermentasi umumnya telah dikuasi secara turun temurun dengan baik.
7. Pengeringan
Pengeringan adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau mengilangkan sebagian air dari suatu bahan dengan menguapkan sebagian besar air yang di kandung melalui penggunaan energy panas (Winarno, 1993). Biasanya, kandungan air bahan tersebut di kurangi sampai 53 batas sehingga mikroorganisme tidak dapat tumbuh lagi di dalamya.Keuntungan pengeringan adalah bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan, berat bahan juga menjadi berkurang sehingga memudahkan transpor, dengan demikian di harapkan biaya produksi menjadi lebih murah.Kecuali itu, banyak bahan-bahan yang hanya dapat di pakai apabila telah di keringkan, misalnya tembakau, kopi, the, dan biji-bijian.
Di samping keuntungan-keuntunganya, pengeringan juga mempunyai beberapa kerugian yaitu karena sifat asal bahan yang di keringkan dapat berubah, misalnya bentuknya, misalnya bentuknya, sifat-sifat fisik dan kimianya, penurunan mutu dan sebagainya.Kerugian yang lainya juga disebabkan beberapa bahan kering perlu pekerjaan tambahan sebelum di pakai, misalnya harus di basahkan kembali (rehidratasi) sebelum di gunakan.Agar pengeringan dapat berlangsung, harus di berikan energi panas pada bahan yang di keringkan, dan di perlukan aliran udara untuk mengalirkan uap air yang terbentuk keluar dari daerah pengeringan.Penyedotan uap air ini daoat juga di lakukan secara vakum.
Pengeringan dapat berlangsung dengan baik jika pemanasan terjadi pada setiap tempat dari bahan tersebut, dan uap air yang di ambil berasal dari semua permukaan bahan tersebut.Factor-faktor yang mempengaruhi pengeringan terutama adalah luas permukaan benda, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap di udara, dan waktu pengeringan.
8.   Penggunaan Bahan Kimia
Bahan pengawet dari bahan kimia berfungsi membantu mempertahankan bahan makanan dari serangan makroba pembusuk dan memberikan tambahan rasa sedap, manis, dan pewarna. Contoh beberapa jenis zat kimia : cuka, asam asetat, fungisida, antioksidan, in-package desiccant, ethylene absorbent, wax emulsion dan growth regulatory untuk melindungi buah dan sayuran dari ancaman kerusakan pasca panen untuk memperpanjangkesegaran masam pemasaran. Nitogen cair sering digunakan untuk pembekuan secara tepat buah dan sayur sehinnga dipertahankan kesegaran dan rasanya yang nyaman.
Berdasarkan Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dengan revisi No. 1168/ Menkes/ Per/X/1999 menyatakan bahwa bahan tambahan pangan adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, dan penyimpanan (Cahyadi, 2008).
No
Komoditas Pertanian
Produk olahan
1
Aneka Buah
Selai, jam, sari buah, manisan, sirup, dodol, keripik
2
Labu Kuning
Puding, kue lapis, cake, pie, nogosari
3
Jagung
Emping, aneka cake, talam, muffin
4
Singkong
criping, lanthing, pathilo, gethuk
5
Rempah-rempah
Jamu, tepung/instan, obat-obatan, bumbu, dan pewarna alami.
6
Aneka kacang
tahu, yogurt, minyak, tempe, tahu, tepung, susu

B.     Kegunaan Perencanaan
Pengertian perencanaan mempunyai beberapa definisi rumusan yang berbeda satu dengan lainnya. Cuningham menyatakan bahwa perencanaan adalah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta, imajinasi, dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualisasi dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima dan digunakan dalam penyelesaian. Perencanaan dalam pengertian ini menitikberatkan kepada usaha untuk menyeleksi dan menghubungkan sesuatu dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.
Definisi lain menyatakan bahwa perencanaan adalah hubungan antara apa yang ada sekarang dengan bagaimana seharusnya yang berkaitan dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program,dan alokasi sumber.
Perencanaan mempunyai makna yang komplek, perencanaan didefinisikan dalam berbagai bentuk tergantung dari sudut pandang, latar belakang yang mempengaruhinya dalam mendefinisikan pengertian perencanaan. Di antara definisi tersebut adalah sebagai berikut: Menurut prajudi Atmusudirjo, perencanaan adalah perhitungan dan penentuan tentang sesuatu yang akan dijalankan dalam mencapai tujuan tertentu, oleh siapa, dan bagaimana. Bintoro Tjokroamidjojo menyatakan bahwa perencanaan dalam arti luas adalah proses memprsiapkan kegiatan-kegiatan secara sistematis yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut Muhammad Fakri perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan pada masa yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Lebih lanjut Muhammad Fakri menyatakan bahwa perencanaan dapat juga dikatakan sebagai suatu proses pembuatan serangkaian kebijakan untuk mengendalikan masa depan sesuai yang ditentukan. Dari kutipan tersebut dapat dianalisis bahwa dalam menyusun perencanaan perlu memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan masa depan, adanya kegiatan, proses yang sistematis, hasil dan tujuan tertentu.
Kesimpulan dari berbagai definisi diatas yaitu perencanaan merupakan proses untuk menentukan kemana harus melangkah dan mengidentifikasi berbagai persyaratan yang dibutuhkan dengan cara efektif dan efesien, serta mengandung enam pokok pikiran yaitu perencaaan melibatkan proses penentapan keadaan masa depan yang diinginkan, keadaan masa depan yang diinginkan dibandingkan dengan kenyataan sekarang sehingga dapat dilihat kesenjangannya, untuk menutup kesenjangan perlu dilakukan usaha-usaha, usaha untuk menutup kesenjangan tersebut dapat dilakukan derngan berbagai usaha dan alternative, perlu pemilihan alternative yang baik yang mencakup efektifitas dan efesiensi, alternative yang sudah dipilih hendaknya diperinci sehingga dapat menjadi petunjuk dan pedoman dalam pengambilan kebijakan.
Perencanaan bertujuan untuk:
1)      Standar pengawasan, yaitu mencocokan pelaksanaan dengan perencanaannya.
2)      Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan.
3)      Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun kuantitasnya.
4)      Mendapatkan kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan.
5)      Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat, biaya, tenaga, dan waktu.
6)      Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan.
7)      Menyerasikan dan memadukan beberapa subkegiatan.
8)      Mendeteksi hambatan kesulitan yang bakal ditemui.
9)      Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

C.    Pengorganisasian
 (organizing) merupakan suatu cara pengaturan pekerjaan dan pengalokasian pekerjaan di antara para anggota organisasi sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien (Stoner, 1996).
            Sedangkan T Hani Handoko (1999) memberikan pengertian pengorganisasian adalah proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya yang dimiliki, dan lingkungan yang melingkupinya.
1.      Proses Pengorganisasian
            Menurut Stoner (1996) langkah-langkah dalam proses pengorganisasian terdiri dari lima langkah:
Ø  Merinci seluruh pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi
Ø  Membagi beban kerja ke dalam kegiatan-kegiatan yang secara logis dan memadai dapat dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang.
Ø  Mengkombinasi pekerjaan anggota perusahaan dengan cara yang logis dan efisien
Ø  Penetapan mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan yang harmonis
Ø  Memantau efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.
D.     Pengawasan
Produksi Pertanian Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses, masukan, jadwal kerja, dan lain-lain yang merupakan upaya untuk memperoleh hasil maksimal dari usaha produksi. Pengawasan dilakukan agar semua rencana dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan semua karyawan melakukan apa yang telah ditugaskan sesuai dengan pekerjaan masing-masing. masing. Evaluasi Produksi Pertanian Evaluasi dilakukan secara berkala, mulai dari saat perencanaan sampai akhir usaha tersebut berlangsung Jika terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap dapat merugikan, maka segera dilakukan pengendalian.
Cara-cara menjalankan Pengawasan .Hal-hal yang mempengaruhi derajat pengawasan mutu ;
a. Kemampuan proses
b. Spesifikasi yang berlaku
c. Apkiran / scrap yang dapat diterima
d. Ekonomisnya kegiatan produksi
E. Pengendalian
Produksi Pertanian Pengendalian dalam usaha produksi pertanian berfungsi untuk menjamin agar proses produksi berjalan pada rel yang telah direncanakan. Dalam usaha tani, misalnya: pengendalian dapat dilakukan pada masalah kelebihan penggunaan tenaga manusia, kelebihan penggunaan air, kelebihan biaya pada suatu tahap proses produksi, dan lain-lain .
Sortasi dan grading merupakan kegiatan utama dalam usaha penanganan  pasca panen  hasil  pertanian,  baik  dalam  keadaan  segar  maupun  dalam  keadaan  yang lain.  Hal  ini  dikarenakan  sortasi  dan  grading  merupakan  kegiatan  awal  dalam penanganan  bahan  yang  akan  menentukan  keberhailan  proses  penanganan selanjutnya.  Dalam  materi  ini  akan  dibahas  pengertian  dan  tujuan  sortasi  dan grading   bahan;  standar  mutu  bahan  hasil  sortasi  dan  grading;  dan  prinsip  dan teknik-teknik  sortasi  dan  grading  bahan,  serta  peralatan  sortasi  dan  grading bahan sesuai dengan standar yang berlaku atau standar ko nsumen.Coba Anda perhatikan tengkulak atau pedagang pengumpul bahan hasil pertanian (buah, sayur atau ikan) di pasar. Sebelum mereka menjual dagangannya, apa saja yang  mereka  lakukan?  Bila  Anda  perhatikan  dengan  seksama,  pasti  Anda  akan melihat  kegiatan  memisahkan  bahan  hasil  pertanian  itu  baik  untuk  tujuan mengumpulkan  bahan  yang  sama  jenisnya  atau  mengelompokkan   bahan berdasarkan  kriteria  tertentu,  seperti  warna,  ukuran,  berat  dan  lain-lain.
Mengelompokkan  bahan  ternyata  dapat  memberikan  keuntungan  bagi  pedagang karena pedagang dapat menjual barang dagangannya dalam berbagai variasi harga walaupun  produknya  sama..  Menjual  dengan  variasi  harga  untuk  produk  yang sama  biasanya  dapat  memberikan  keuntungan  yang  lebih  dibandingkan  kalau menjual  satu  jenis  komoditas  tanpa  memilah  dan  mengelompokkan  terlebih dahulu. Selain itu, masih banyak manfaat yang akan didapat dari kegiatan sortasi dan grading. Didalam bab ini akan dipelajari definisi, tujuan, prisnsip, teknik dan peralatan sortasi dan grading.
Sortasi  pada  bahan  hasil  pertanian  dan  perikanan  merupakan  serangkaian kegiatan  yang  dilakukan  dengan  tujuan  memisahkan  hasil  pertanian/perikanan  yang  baik  dan  yang  jelek  atau  memisahkan  benda  lain  yang  tidak diharapkan.  Pengertian  hasil  panen  yang  baik  adalah  yang  tidak  mengalami kerusakan fisik dan terlihat menarik. Sedangkan hasil panen yang jelek adalah hasil yang telah mengalami kebusukan atau kerusakan fisik akibat penguapan atau serangan hama dan penyakit.
Sortasi  dilakukan  untuk  memisahkan  hasil  panen  yang  baik  dan  yang  jelek.Grading  dilakukan  untuk  mengelompokkan  produk  menjadi  beberapa  kelas mutu/grade sesuai kriteria kelas mutu/grade masing-masing komoditas.
Kegiatan  sortasi  dan  grading  bisa  dilaksanakan  secara  manual,  menggunakan alat  sederhana  hingga  menggunakan  alat  yang  kompleks,  hal  ini  biasanya tergantung  dari  jenis  komoditas,  skala  kegiatan,  serta  sumber  daya  yang tersedia.  Berikut  ini  disajikan  gambar  sortasi  dan  grading  sederhana,  sedang dan menggunakan mesin.

















Contoh kasus
Cara Membuat Tempe Sendiri Langkah demi Langkah
Tempe adalah salah satu jenis makanan yang banyak difavoritkan oleh masyarakat Indonesia. Mengapa? Selain rasanya yang gurih, tempe ternyata mengandung banyak protein nabati yang sangat baik untuk metabolisme tubuh. Apalagi dewasa ini bermunculan ide masak yang terbuat dari tempe ini salah satunya adalah steak yang pasti tak kalah enaknya dari steak daging. Nah, bagi anda yang penasaran bagaimana sih cara membuat tempe, simak terus ya artikel ini..
Cara Membuat Tempe
Description: Description: Description: Description: Cara membuat tempe sendiri
Alat dan Bahan Membuat Tempe :
    • Baskom
    • Saringan
    • Dandang
    • Kipas angin
    • Sotel kayu
    • Tampah
    • Kompor
    • Kacang Kedelai
    • Ragi tempe
    • Daun pisang/kantong plastik
Langkah-langkah Cara membuat tempe :
    1. Cuci bersih semua peralatan terlebih dahulu. Keringkan.
    2. Cuci bersih kacang kedelai.
    3. Rendamlah kacang kedelai kurang lebih selama 13-18 jam.
    4. Jika sudah lunak, kelupas kulitnya.
    5. Bilas menggunakan air.
    6. Rebus kembali biji kedelai yang sudah dibilas air tadi.
    7. Tiriskan pada tampah. Kipasi menggunakan kipas angin hingga tidak terlalu panas.
    8. Masukkan ragi tempe ke biji kedelai secara merata, aduk rata.
    9. Masukkan biji kedelai yang sudah diberi ragi pada daun pisang atau kantong plastik. Untuk tebal tipisnya sesuai dengan selera anda.
    10. Untuk mendapatkan tempe yang baik, waktu yang dibutuhkan untuk proses fermentasi adalah 2 hari dengan suhu kamar. Usahakan kacang kedelai anda sudah tertutupi jamurnya.






DAFTAR PUSTAKA



Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN MAGANG DI KANTOR URUSAN AGAMA PADA BAGIAN ADMINISTRASI

MAKALAH FETAL SKULL FETAL POSITIONING MEKANISME PERSALINAN PRESENTASI VERTEX (OKSIPUT ANTERIOR DAN OKSIPUT POSTERIOR)

MAKALAH “Deteksi Dini Gangguan Psikologi Pada Masa Nifas