TUGAS MANAJEMEN PERKEBUNAN


TUGAS
MANAJEMEN PERKEBUNAN
 
 


                                                                
Description: LOGO.png




                                                                                                   











DI SUSUN OLEH :
SHINDY RAMANANDA
ALDO MAHERA
ANISA BYNAZAM
DWIKI DABELA Y


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)
YAYASAN PASAMAN (YAPPAS)
2019 - 2020




DAFTAR ISI



DAFTAR ISI…………………………………………………………………………. i
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... ii
A. Latar Belakang............................................................................................. ii
B. Tujuan.......................................................................................................... ii

BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 1
II.1. Pengertian Manajemen Produksi Pertanian (Agribisnis)........................... 2
II.2. Manajemen Produksi Dalam Usaha Produksi Pertanian........................... 3
A.     Perencanaan ( pleaniing )
B.     Pengorganisasian (Organizing )
C.     Pelaksanaan ( Acuanting )
D.     Pengawasan ( Controling )
II.3. Secara skematis mata rantai kegiatan agribisnis............................................... 4

BAB III PENUTUP.................................................................................................. 5
A. Kesimpulan................................................................................................... 6
B. Saran............................................................................................................. 7

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 8






KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Produksi Pertanian (Agribisnis), makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Perkebunan.
Makalah ini disusun sebagai sarana memperluas pengetahuan tentang Pertanian (agribisnis). penulis mengucapkan terimakasih kepada Dosen pembimbing mata kuliah Manajemen Perkebunan yang telah memberikan tugas ini untuk menambah pemahaman penulis tentang pertanian (agribisnis).
Tim Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak kekurangan. Oleh sebab itu, tim penyusun sangat mengharapkan pengertian dari pembaca.Semoga makalah ini memberikan manfaat khususnya bagi penulis umumnya bagi pembaca. Amiin.....




Simpang Tiga, November, 2019


Penulis























BAB.I.
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Selama ini Indonesia dikenal sebagai Negara agraris, terutama karena sebagian besar penduduknya masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Selain itu, kondisi alam Indonesia yang terletak di wilayah tropis sangat memungkinkan untuk pengembangan di sektor budidaya pertanian.
Pertanian merupakan salah satu sector ekonomi yang menyerap tenaga kerja paling besar ( 45 % ), bahkan dalam keadaan krisis ekonomi pada tahun1998 sektor pertanian merupakan sector yang paling survive diantara sektor ekonomi yang lain. Namun demikian harus diakui bahwa sektor pertanian merupakan sektor ekonomi yang paling rendah produktivitasnya. Kontribusi sektor pertanian yang besar tersebut tidak diimbangi dengan kontribusinya terhadap pendapatan nasional. Kontribusi sektor pertanian terhadap pendapatan nasioanal hanya sekitar 16%. Hal ini berarti tenaga kerja sektor pertanian menghasilkan nilai tambah yang rendah.
Lantas, jurus apa saja yang perlu diterapkan agar posisi sektor pertanian bias memberikan kontribusi yang optimal terhadap pendapatan nasional juga sekaligus mampu mendongkrak pendapatan petani.
Mengahadapi kondisi yang demikian diperlukan manajemen yang lebih baik dan fleksibel serta inovasi teknologi yang berorientasi pada kondisi lokal. Salah satunya adalah Perlunya penerapan manajemen produksi dalam usaha produksi pertanian.






1.2 Tujuan
Ø  Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan manajemen produksi pertaniaan
Ø  Untuk mengetahui bagaimana cara memanajemen produksi dalam usaha produksi pertanian.














BAB. II.
PEMBAHASAN
II. 1.   Pengertian Manajemen Produksi Pertanian (Agribisnis)
Produksi agribisnis dapat diartikan sebagai seperangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi dalam penciptaan produk agribisnis (produk usaha pertanian, perikanan, peternakan, kehutanan, dan hasil olahan produk tersebut).
Sedangkan manajemen produksi merupakan salah satu bagian dari bidang manajemen yang mempunyai peran dalam mengoordinasikan bagian kegiatan untuk mencapai tujuan.

Manajemen produksi memiliki dampak menyeluruh dan terkait dengan berbagai fungsi seperti fungsi keuangan, personalia, keuangan, penelitian dan pengembangan, pengadaan dan penyimpanan, dan lain-lain. Manajemen produksi menyangkut beberapa hal yang meliputi: keputusan lokasi, ukuran atau volume, tata letak fasilitas, pembelian, persediaan, penjadwalan, dan mutu produksi.
Agribisnis Manajemen, agribisnis mengandung pengertian dari 2 kata yaitu manajemen dan agribisnis. Manajemen berarti seni (art) dan ilmu (science) untuk melaksanakan suatu rangkaian pekerjaan melalui penggunaan sumberdaya.
Menurut Stoner dan Freeman (1989) manajemen adalah perencaaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisi dan proses pemanfaatan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Menurut pendapat lain manajemen adalah suatu proses untuk mencapai hasil-hasil yang diinginkan dengan menggunakan sumber daya yang tersedia dengan menjalankan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, fungsi pengorganisasian, fungsi pengarahan dan pengimplementasian dan fungsi pengawasan dan pengendalian.
Menurut Subiakto Tjakrawerdaya (1996), agribisnis secara umum mengandung pengertian sebagai keseluruhan operasi yang terkait dengan usaha untuk menghasilkan uasaha tani,untuk pengolahan dan pemasaran.
Sedangkan menurut Ikhsan Semaoen (1996), agribisnis adalah suatu kegiatan usaha yang berkaitan dengan sector agribisnis mencakup perusahaan yang pemasok input agribisnis dan jasa pengangkutan,jasa keuangan.
Dengan arti lain Agribisnis adalah semua aktivitas dalam bidang pertanian mulai dari industri hulu,usaha tani,industri hilir hingga distribusinya.
Dengan demikian Manajemen Agribisnis adalah suatu kegiatan dalam bidang pertanian yang menerapkan manajemen dengan melaksanakan fungsi fungsi perencanaan,fungsi pengorganisasian,fungsi pengarahan dan fungsi pengawasan serta pengendalian dengan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menghasilkan produk pertanian dan keuntungan yang maksimal. Manajemen agribisnis lebih tepat dikatakan sebagai bentuk manajerial ekonomi. Manajemen agribisnis tidak hanya menjelaskan adanya fenomena agribisnis (sebagai ilmu ekonomi pertanian), namun lebih menekankan bagaimana seharusnya agribisnis itu dilakukan.
Menurut bahasa, manajemen berasal dari bahasa inggris “manajemen” yang berarti mengurusi. Orang yang sering mengurusi suatu pekerjaaan dan memimpin pekerjaan itu disebut Manajer. Sebagai kesimpulan dari berbagai pendapat tentang definisi manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan baik individu maupun berkelompok untuk mencapai tujuan melalui rangkaian kegiatan berupa :
1.      Perencanaan ( Planning ),
2.      Pengorganisasian ( Organizing ),
3.      Penggerakkan/pengarahan ( Actuating )
4.       Pengendalian/pengawasan ( Controlling )

II. 2.   Manajemen Produksi Dalam Usaha Produksi Pertanian
Usaha produksi pertanian sangat variatif dan sangat tergantung kepada jenis komoditi yang diusahakan. Namun, pada intinya manajemen produksi pertanian mencakup kegiatan perencanaan, pengawasan, evaluasi dan pengendalian. Manajemen produksi dalam usaha produksi pertanian tersebut diuraikan dibawah ini :
A.     Perencanaan Proses Produksi Pertanian
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan proses produksi pertanian meliputi: perencanaan produksi pertanian, biaya produksi, penjadwalan proses produksi, pola produksi, sumber-sumber input dan sistem pengadaannya, pemilihan komoditas pertanian, pemilihan lokasi pertanian, dan skala usaha pertanian.
  1. Perencanaan Produksi Pertanian
Perencanaan merupakan suatu upaya penyusunan program baik program yang sifatnya umum maupun yang spesifik, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Suatu usaha produksi yang baru memerlukan perencanaan yang bersifat umum atau yang sering disebut sebagai praperencanaan. Faktor - faktor yang sangat penting dan harus diputuskan dalam praperencanaan agribisnis, khususnya subsistem produksi primer/usaha tani adalah pemilihan lokasi produksi dan pertimbangan fasilitas serta skala usaha setelah ketiga hal tersebut diputuskan,maka dibuat rencana yang lebih spesifik menyangkut kebutuhan input - input serta perlengkapan produksi.
  1. Biaya produksi pertanian
Perencanaan biaya produksi sangat terkait dengan kemampuan pembiayaan yang dimiliki oleh perusahaan, baik bersumber dari modal sendiri maupun dari sumber luar, seperti modal ventura, pembiayaaan melaluikredit, penjualan saham dan sumber-sumber pembiayaan lainya. Perencanaan biaya tersebut juga terkait dengan skala usaha, makin besar usaha yang dijalankan makin besar pula biaya produksi yang harus disediakan tetapi perlu diingat bahwa dengan penggunaan biaya produksi yang optimal dan ekonomis dapat menghasilkan pendapatan usaha yang maksimal.
  1. Penjadwalan Proses Pertanian
Penjadwalan proses produksi dibuat mulai dari pembukaan lahan sampai kepada proses panen dan penanganan pascapanen, terutama untuk komoditas yang memiliki gestation period yang relatif pendek, seperti tanaman holtikultura.
Namun, komoditas yang gestation perodnya relatif panjang, seperti tanaman perkebunan, biasanya penjadwalan secara rinci dilakukan secara bertahap, walaupun tetap ada perencanaan jangka panjang yang menyeluruh. Penjadwalan tanaman holtikultura yang berumur pendek memegang peranan penting sehubungan dengan fluktuasi harga dan permintaan dalam setahun. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan penjadwalan adalah jenis komoditas, kecenderungan permintaan dan fluktuasi harga, gestation period, pola produksi, pembiyaan dan lain-lain.
  1. Perencanaan Pola Produksi pertanian
Perencanaan pola produksi memegang peranan penting dalam penjadwalan, perencanaan tenaga kerja dan input, pembiayaan, proses produksi dan operasi, penanganan pasca panen, serta sistem distribusi dan pemasaran, terutama untuk tanaman holtikultura yang memerlukan penanganan cepat.
  1. Pemilihan komoditas pertanian
Pemilihan komoditas yang akan diusahakan memegang peranan penting dalam keberhasilan usaha produksi pertanian. Komoditas yang bernilai ekonomis tinggi akan menjadi prioritas utama tetapi perlu dipertimbangkan hal-hal yang berhubungan dengan pemasaranya. Sebab,mungkin terjadi komoditas ekonomis dalam produksi tetapi tidak tepat untuk daerah produksi dan wilayah pemasaran yang akan dituju. Komoditas yang telah dipilih selanjutnya ditetapkan jenisnya/varietasnya sesuai dengan kondisi topografi dan iklim lokasi yang direncanakan.
  1. Pemilihan Lokasi Produksi Pertanian dan Penempatan  Fasilitas.
Untuk usaha agribisnis berskala kecil mungkin pemilihan lokasi produksi tidak menjadi suatu prioritas, karena umumnya produksi dilakukan di daerah domisili para petani. Namun usaha agribisnis yang berskala menengah keatas  seperti perusahaan perkebunan, peternakan, perikanan yang dikelola oleh perusahan dengan modal investasi yang berjumlah besar, maka pemiliihan lokasi tersebut akan besar pengaruhnya bagi keberhasikan dan kesinambungan usaha.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi adalah ketersediaan tenagakerja, ketersediaan prasarana dan sarana fisik penunjang, lokasi pemasaran,dan ketersediaan intensif wilayah. Tingkat upah regional dan peraturan-peraturan ketenagakerjaan didaerah tersebut juga harus menjadi pertimbangan, tingkat upah regional sangat berpengaruh kepada biaya tenaga kerja yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Peraturan - peraturan ketenagakerjaan juga berpengaruh kepada kewajiban-kewajiban perusahaan dalam kaitanya dengan pemanfaatan tenaga kerja. Ketersediaan sarana dan prasarana fisik penujang, seperti transportasi dan perhubungan, komunikasi, penerangan serta pengairan/sumber air,sangat penting untuk menjadi pertimbangan dalam keputusan lokasi produksi, sifat-sifat dan karakteristik produk-produk pertanian dan perlengkapan input-input dan sarana produksinya yang kamba (voluinous) menyebabkan ketersediaan sarana dan prasarana fisik tersebut menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan.
Produk pertanian yang umumnya tidak tahan lama memerlukan penanganan dan pengangkutan yang cepat menuju ke lokasi konsumen begitu juga keberadaan alat komunikasi akan menjadi penting untuk transfer informasi dari lokasi produksi ke lokasi pasar atau sebaliknya. Pertimbangan lainya adalah lokasi pemasaran, sebaiknya lokasi produksi dekat dengan lokasi pemasaran terutama untuk komoditas - komoditas yang tidak tahan lama, seperti produk hortikultura. Walaupun demikian pada era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, jarak antara lokasi produksi dan lokasi pasar tidak menjadi prioritas karena dengan teknologi daya tahan produk dapat diperpanjang dan jarak relatif dapat diperpendek dengan alat-alat pengangkutan yang cepat. Selanjutnya, intensif wilayah juga merupakan faktor pertimbangan dalam menetapkan keputusan lokasi produksi, intensif wilayah sangat terkait dengan kebijakan pemerintah daerah terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan operasi produksi tersebut. kebijakan pajak, kebijakan dan peraturan tenagakerja, kebijakan Investasi, budaya pelayanan publik (demokrasi), dan lain – lain merupakan intensif wilayah yang mempunyai daya tarik bagi investor untuk berusaha di daerah tersebut.
  1. Skala usaha Pertanian
Skala usaha pertanian sangat terkait dengan ketersediaan input dan pasar. Skala usaha hendaknya diperhitungkan dengan matang sehingga produksi yang dihasilkan tidak mengalami kelebihan pasokan atau kelebihan permintaan. Begitu juga ketersediaan input seperti; modal, tenaga kerja, bibit, peralatan, serta fasilitas produksi dan operasi lainya harus diperhitungkan. Skala usaha yang besar secara teoretis akan dapat menghasilkan economics of scale yang tinggi. Namun, kenyataan dilapangan seringkali skala besar menjadi tidak ekonomis yang disebabkan oleh karakteristik produk dan produksi komoditas pertanian yang khas. Oleh karena itu, dalam merencanakan usaha produksi pertanian maka keputusan mengenai skala usaha menjadi sangat penting.
Karakteristik produk dan produksi komoditas pertanian juga menyebabkan skala usaha kecil dibidang Agribisnis kebanyakan dapat mencapai skala ekonomis. Pada umumnya, tanaman holtikultura dapat diusahakan dalam skala yang kecil dengan tingkat efisiensi yang cukup tinggi. Akan tetapi, komoditas perkebunan seperti; kelapa sawit , teh, kina, karet, tebu dan lain-lain akan sangat tidak efisien jika diusahakan dalam skala kecil pada komoditas tersebut maka perlu dibentuk pola-pola kemitraan ,seperti perkebunan inti rakyat (PIR).
Pola produksi dapat dibagi kedalam beberapa bentuk, antara lain berdasarkan:
1)      Jumlah komoditas yaitu komoditas tunggal, komoditas ganda dan multikomoditas.
2)       Sistem produksi, yaitu pergiliran tanaman dan produksi massal.
  1. Perencanaan dan sistem pengadaan input-input dan sarana produksi pertanian
Perencanaan input-input dan sarana produksi mencakup kegiatan mengidentifikasi input-input dan sarana produksi yang dibutuhkan, baik dari segi jenis, jumlah, mutu ataupun spesifikasinya.  Secara umum, input-input dalam agribisnis adalah bibit, pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dan modal. Dilain pihak sarana dan prasarana produksi adalah areal tempat produksi, perlengkapan dan peralatan serta bangunan-bangunan pendukung dan teknologi. Setelah input-input serta sarana dan prasrana produksi di indentifikasi dan dispesifikasi, maka disusun rencana dan sistem pengadaanya. Dua hal mendasar yang perlu menjadi titik perhatian dalam memilih sistem pengadaan adalah membuat sendiri atau membeli. Misalnya, dalam hal pengadaan bibit, apakah memproduksi bibit sendiri ataukah membeli dari sumber-sumber lain. Keputusan memproduksi sendiri atau membeli sangat tergantung pada biaya imbangan antara kedua alternatif tersebut.

B.     Pengorganisasian Input dan Sarana Produksi Pertanian
§  Pengorganisasian sangat berguna dalam pencapaian efisiensi usaha dan waktu dan menyangkut bagaimana mengalokasikan berbagai input dan fasilitas yang akan digunakan dalam proses produksi secara tetap dalam suatu rangkaian proses baik dari segi jumlah maupun mutu dan kapasitas.

§  Pencapaian efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan fasilitas produksi lebih mengarah kepada optimisasi penggunaan berbagai sumberdaya tersebut sehingga dapat dihasilkan output maksimum dengan biaya tetap atau biaya minimum dengan output tetap.

§  Dalam rangka pencapaian efektifitas dan efisiensi dalam pengorganisasian input-input dan sarana produksi merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan tingkat produktifitas perusahaan secara keseluruhan


C.     Kegiatan Produksi Pertanian

v  Kegiatan produksi merupakan pelaksanaan rencana produksi yang telah dibuat dan merupakan kegiatan yang mempunyai masa yang cukup lama serta terkai dengan bagaimana mengelola proses produksi berdasarkan masukan, baik yang langsung maupun tidak langsung untuk menghasilkan produk.

v  Proses produksi dalam agribisnis menjadi suatu kegiatan yang sangat menentukan keberhasilan usaha dan merupakan penyedot biaya paling besar.

v  Efektifitas kegiatan produksi tersebut harus dilakukan secara efektif dan efisien untuk mencapai produktivitas yang tinggi.

v  Efektifitas kegiatan produksi dapat dilihat dari alokasi sumberdaya yang benar, perencanaan proses produksi yang benar, serta pelaksanaan yang benar.

D.     Pengawasan Produksi Pertanian

Ø  Pengawasan dalam usaha produksi pertanian meliputi pengawasan anggaran, proses masukan, jadwal kerja dan sebagainya dalam rangka upaya untuk memperoleh produksi yang maksimal.

Ø  Pengawasan dilakukan agar perencanaan yang telah disusun dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan semua karyawan melakukan apa yang telah ditugaskan sesuai dengan tugas masing-masing

E.     Evaluasi Produksi Pertanian
Evaluasi dilakukan secara berkala dimulai dari tahap perencanaan sampai dengan kegiatan produksi selesai untuk mengendalikan apabila terjadi penyimpangan dari rencana yang dianggap merugikan kegiatan produksi.
II. 3.  Secara skematis mata rantai kegiatan agribisnis dapat digambarkan sebagai berikut :
1.      Subsistem penyediaan sarana produksi Menyangkut kegiatan penyediaan dan penyaluran sarana produksi pertanian yang didasarkan pada perencanaan dan pengelolaannya, sehoingga sarana produksi tersebut memenuhi 5 kriteria tepat (waktu, jumlah, jenis, mutu, dan produk). Kegiatan-kegiatan ini mempunytai keterkaitan kebelakang dengan industri-industri hulu.
2.      Subsistem usahatani/ produksi Menyangkut kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan usaha tani dalamrangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termsuk dalamkegaiatan ini adalah pemilihan lokai usaha tani, pemilihan komoditas, pemilihan teknologi serta pola usaha tani.
3.      Subsistem agroindustri /pengolahan hasil Menyangkut kegiatan-kegiatan pengolahan hasil usahatani yang merupakan keseluruhan kegiatan mulaidari penanganan pascapanen sampai pada tingkat pengolahan lanjutan hasil pertanain, dengan maksud untuk menambah addedvalue dari produksi primer.
4.      Subsistem pemasaran Menyangkut kegiatan pemasaran haasil-hasil pertanian atau hasil agroindustri, yang ditujukan untuk pasar domestik (dalam negeri) ataupun pasar luar negri (ekspor).























BAB III.
PENUTUP

III.   1.   Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1.      Manajemen adalah sebuah proses yang dilakukan baik individu maupun berkelompok untuk mencapai tujuan melalui rangkaian kegiatan berupa; Perencanaan ( Planning ), Pengorganisasian   ( Organizing ), Penggerakkan/pengarahan ( Actuating ) , dan Pengendalian/pengawasan ( Controlling ).
2.      Ruang lingkup manajemen produksi dalam usaha produksi pertanian terdiri atas: perencanaan produksi pertanian, pemilihan komuditas pertanian , pemilihan lokasi produksi pertanian dan penempatan fasilitas , skala usaha pertaniaan , perencanaan proses produksi pertanian , biaya produksi pertaniaan , penjadwalan proses pertanian dan perencanaan pola produksi.

III.   2.  Saran
Penyusun berharap kepada pembaca untuk menyimak, mempelajari dan menggunakan makalah ” Manajemen produksi dalam usaha produksi pertanian “  sebagai motivasi dan menjadi referensi kepada pembaca dalam melakukan kegiatan usaha disektor pertanian.  Akhirnya  penyusun sadari sepenuhnya bahwa makalah yang kami susun jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.




















DAFTAR PUSTAKA

Adiwiganda, R. dan M. M. Siahaan.1994. Kursus Manajemen Perkebunan Dasar Bidang Tanaman. Lembaga Pendidikan Perkebunan Medan. Hal 68.
Firdaus, M. (2008). Manajemen Agribisnis. Jakarta: Bumi Aksara.
W. David, D., & Ericson, S. P. (1992). Manajemen Agribisnis. Jakarta: Erlangga.





























STUDI KASUS
PENGENDALIAN PADA PERUSAHAAN AGRIBISNIS PT CETRAL PERTIWI BAHARI OLEH ADMIN
PT Central Pertiwi Bahari adalah anak perusahaan PT. Central Proteina Prima, Tbk. (CPP). PT. Central Pertiwi Bahari adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam budidaya udang terintegrasi yang meliputi pembangunan dan pengembangan tambak udang untuk dijual kepada petani udang, udang pakan ternak dan pembibitan untuk memasok petani. Perusahaan ini berdiri pada 8 Juni 1994 dengan nama PT. Central Pertiwi Bratasen, namun akhirnya berganti nama menjadi PT. Central Pertiwi Bahari. Perusahaan yang memiliki sekitar 4000 karyawan ini terletak di Tulang Bawang, Lampung.
Perusahaan ini merupakan perusahaan yang memiliki tambak terbesar di Indonesia dan terintegrasi vertikal mulai dari indukan udang, pembesaran benur, budidaya udang, pabrik pakan udang, proses panen, pembekuan dan pemrosesan udang hingga ekspor. Perusahaan ini sudah menggunakan teknologi seperti pusat tenaga listrik dan  pengolahan air untuk budidaya udang, serta pengolahan dan dan mesin cold storage. Hasil udang dari perusahaan ini ada yang diekspor ke Amerika, Jepang dan negara-negara Eropa, dan ada juga yang dijual ke petani maupun masyarakat lokal.
Pengendalian atau controlling adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula. Pengendalian bukan hanya untuk mencari kesalahan-kesalahan, tetapi berusaha untuk menghindari terjadinya kesalahan-kesalahan serta memperbaikinya jika terdapat kesalahan. Jadi pengendalian dilakukan sebelum proses, saat proses, dan setelah proses, yakni hingga hasil akhir diketahui. Dengan pengendalian diharapkan pemanfaatan unsure-unsur manajemen efektif dan efisien.

Dalam proses pengendalian (kontrol) dibutuhkan langkah-langkah seperti berikut ini :
  1. Menentukan standar-standar yang akan digunakan menjadi dasar pengendalian.
  2. Mengukur pelaksanaan atau hasil yang telah dicapai.
  3. Membandingkan pelaksanaan atau hasil dengan standar dan menentukan penyimpangan bila ada.
  4. Melakukan tindakan perbaikan, jika terdapat penyimpangan agar pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.
Pada tanggal 12 Maret 2013 terjadi bentrokan  antara petambak plasma Forum Silaturahmi (Forsil) dengan plasma P2K (Petambak Pro-Kemitraan ) dan karyawan yang sedang tugas ronda di Pos Ronda PLO dan Pos Ronda FPD. Kedua kubu yang bentrok tersebut memang sudah sejak Desember 2012 mempunyai perbedaan sikap terhadap perusahaan PT. Central Pertiwi Bahari yang slah satunya menyebabkan semakin turunnya produksi. Menurut situs Lampost.co.id dari sekitar 3.400 petambak milik perusahaan CPB, hanya 600 yang berproduksi. Menghadapi masalah tersebut ada beberap hal yang dilakukan perusahaan sebagai pengendalian dengan tujuan untuk memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Tidak hanya internal control, namun juga sudh ada external control dalam menghadapi bentrok tersebut. Aparat hokum dan TNI langsung turun tangan dalam upaya pengendalian suasana bentrok di Tulang Bawang, namun tidak dapat dihindarkan 3 orang tewas dalam bentrok tersebut, serta puluhan orang luka-luka. Dalam rangka penyelesaian masalah ini, dibentuklah tim penyelesaian konflik di tambak PCB yang di ketuai oleh Wakil Bupati Tulang Bawang, Heri Wardoyo. Pihak-pihak terkait melakukan runding mengenai perdamaian. Pengendalian ini merupakan salah satu pengendalian pada saat proses dilakukan.
Setelah masalah pro-kontra para petambak yang mengakibatkan menurunnya produksi ini mereda, perusahaan mengadakan Repressive control agar masalah yang sama tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Langkah-langkah yang dilakukan oleh manajemen perusahaan yaitu menganalisis sebab-sebab yang menimbulkan kesalahan dan mencari tindakan perbaikannya, memberikan penilaian terhadap pelaksananya, dalam hal ini para petambak, dan memberi sanksi hukuman kepada mereka. Setelah analisis dilakukan, diketahui bahwa penyebab menurunnya produksi tersebut adalah karena adanya hasutan yang dilakukan oleh forsil kepada par petambak sehingga petambak tidak berani menybar bibit. Hasil analisis ini kemudian ditindak lanjuti oleh pihak manajemen dengan melakukan internal controlling dengan formal controlling yang dilakukan oleh atasan kepada para petambak.
Petambak yang akhirnya mulai memproduksi kembali tetap menjadi objek pengendalian oleh pihak manajemen perusahaan. Pihak manajemen tetap melakukan pengendalian berkala selama proses produksi berjalan. Pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan menggunakan alat-lat pengendalian berupa budget  maupun non-budget.  Pengendalian dengan alat ­non-budget yang dilakukan oleh perusaan CPB ini adalah sebagai berikut:
  1. Personal observation, pengawasan langsung secara pribadi oleh pimpinan perusahaan terhadap para bawahan yang sedang bekerja.
  2. Report, laporan yang dibuat oleh para manajer.
  3. Financial statement, daftar laporan keuangan yang biasanya terdiri dari Balance sheet dan Income Statement (neraca rugi laba).
  4. Statistic merupakan pengumpulan data, informasi, dan kejadian yang tealh berlalu.
  5. Intenal Audit, pengendalian yang dilakukan oleh atasan terhadap bawahan yang meliputi bidang-bidang kegiatan secara menyeluruh yang menyangkut masalah keuangan.Auditing ini juga menyangkut pengendalian persediaan yang baik, pembayaran barang yang dibeli, dan pemeriksaan yang cukup, apakah barang yang telah dibayar benar-benar telah diterima.

Jenis-jenis pengendalian yang dilakukan oleh perusahaan dalam rangka meningkatkan produksi udang yaitu:
  1. Pengendalian karyawan, ditujukan kepada hal-hal yang ada hubungannya dengan kegiatan petambak. Pengendalian berkala selalu dilakukan oleh pihak manajemen kepada para petambak dalam seluruh proses produksi. Sejak tebar benih hingga proses pemanenan.
  2. Pengendalian produksi, ditujukan untuk mengetahui kualitas dan kuantitas produksi yang dihasilkan, apakah sesuai dengan standar atau rencananya.
  3. Pengendalian waktu, ditujukan kepada penggunaan waktu, waktu selalu direncakanan sejak waktu penebaran benih hingga waktu pemanenan.
  4. Pengendalian teknis, ditujukan kepada hal-hal yang bersifat fisik, yang berhubungan dengan tindakan dan teknis pelaksanaan.
Perusahaan Central Pertiwi Bahari dengan melakukan proses pengendalian yang ketat sejak terjadinya konflik antar kubu pro-kontra perusahaan tersebut makin hari makin membaik keadaannya. Menurut Republika Online, hingga Maret 2014 CPB sudah membudidayakan udang pada lebih dari 1.500 areal tambak, dengan hasil panen sesuai dengan standar budi daya yang ditetapkan. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa proses pengendalian oleh manajemen dapat mengatasi masalah-masalah yang ada di perusahaan termasuk didalamnya masalah produksi.





Comments

Popular posts from this blog

LAPORAN MAGANG DI KANTOR URUSAN AGAMA PADA BAGIAN ADMINISTRASI

MAKALAH FETAL SKULL FETAL POSITIONING MEKANISME PERSALINAN PRESENTASI VERTEX (OKSIPUT ANTERIOR DAN OKSIPUT POSTERIOR)

MAKALAH “Deteksi Dini Gangguan Psikologi Pada Masa Nifas