MAKALAH REVOLUSI INDUSTRI 4.0
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan
nikmat yang tak terhingga, sehingga
kelompok kami bisa menulis makalah ini tepat pada waktunya. Sholawat serta
salam semoga tercurah kepada Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW semoga kita
selalu mendapat syafa’at darinya.
Dengan
menyelesaikan makalah ini, penulis berusaha untuk belajar akan pentingnya
mengetahui sejarah munculnya revolusi industri serta pengaruh Revolusi Industri
baik di Eropa dan penemuan-penemuannya guna untuk menambah wawasan baik bagi
penulis maupun bagi para pembaca. Selain itu dengan menyelesaikan makalah ini
kami juga dapat menambah wawasan tentang sejarah lengkap Revolusi Industri 4.0.
Dengan selesainya makalah ini diharapkan teman-teman
mahasiswa bisa lebih mengetahui Revolusi Industri. Penulis menyadari masih
banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, oleh sebab itu sumbangan
pemikiran yang bersifat koreksi untuk penyempurnaan sangat di harapkan. Penulis
mengharapkan semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam menunjang pelaksanaan
perkuliahan yang sedang kita laksanakan bersama.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar
..........................................................................................................................
Daftar Isi
...................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang Masalah ................................................................................................
1.2. Rumusan
Masalah
.........................................................................................................
1.3. Tujuan
Masalah .............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Revolusi Industri 4.0 .......................................................................................
2.2 Prinsip Rancangan Revolusi Industri
4.0 ...........................................................................
2.3 Era Disrupsi .......................................................................................................................
2.4 Tantangan ..........................................................................................................................
2.5 Analisis SWOT ..................................................................................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan........................................................................................................................
3.2.
Saran..................................................................................................................................
Daftar
Pustaka..........................................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di
mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur,
pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam
terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri
dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh
dunia.
Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18,
dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja yang
sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh
penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan
dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik
pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut
dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan
jalan raya dan rel kereta api. Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis
pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya
perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya
menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar.
Revolusi industri telah dirasakan oleh seluruh
umat manusia di Dunia termasuk Negara Indonesia. Indonesia yang dikenal dengan
negara agraris, sebelum hadirnya industri, Indonesia yang dulu mata
pencahariannya sangat bergantung dengan alam misalnya pertanian, perkebunan.
Setelah terjadinya revolusi Industri,muncul pergeseran mata pencaharian seperti
pembagunan pabrik, yang memproduksi barang metah menjadi barang siap pakai,
sehingga banyak menyerapkan tenaga kerja. Oleh karena itu, mata pencaharian di
Indonesia sudah bervariasi yaitu tidak hanya bergantug pada bercocok tanam saja.
Adalah Prof Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia
asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum(WEF) yang
mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0.
Dalam bukunya yang berjudul “The Fourth
Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017) menjelaskan revolusi industri 4.0
telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Berbeda dengan
revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki
skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru
yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi
semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang
mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya robot
kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), teknologi nano,
bioteknologi, dan teknologi komputer kuantum, blockchain (seperti bitcoin),
teknologi berbasis internet, dan printer 3D. Revolusi industri 4.0
merupakan fase keempat dari perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai
pada abad ke -18. Menurut Prof Schwab, dunia mengalami empat revolusi industri.
Revolusi industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap untuk mendukung mesin
produksi, kereta api dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula
bergantung pada tenaga manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga
mesin uap. Dampaknya, produksi dapat dilipatgandakan dan didistribusikan ke
berbagai wilayah secara lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini juga
menimbulkan dampak negatif dalam bentuk pengangguran masal. Ditemukannya enerji
listrik dan konsep pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19
telah menandai lahirnya revolusi industri 2.0. Enerji listrik mendorong para
imuwan untuk menemukan berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesin
telegraf, dan teknologi ban berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi
hingga 300 persen.
1.2 Rumusan
Masalah
Dalam makalah ini, akan membahas tentang Revolusi Industri 4.0 yang perumusan masalahnya dapat diidentifikasikan sebagai
berikut :
1.
Bagaimana
sejarah muncul Revolusi Industri 4.0?
2.
Bagaimana
pengaruh Revolusi Industri 4.0 di Indonesia?
3.
Apa saja
prinsip rancangan Revolusi Industri 4.0?
4.
Bagaimana
tantangan pada Revolusi Industri 4.0?
1.3 Tujuan Masalah
Dari perumusan masalah diatas, maka dapat diidentifikasi
tujuan dari masalah Revolusi Industri
sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui sejarah Revolusi Industri 4.0
2.
Untuk
pengaruh Revolusi Industri 4.0 di
Indonesia.
3.
Menjelaskan
prinsip rancangan Revolusi Industri 4.0.
4.
Menjelaskan
tantangan Revolusi Industri 4.0.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Revolusi Industri 4.0
Adalah Prof
Klaus Schwab, Ekonom terkenal dunia asal Jerman, Pendiri dan Ketua Eksekutif
World Economic Forum (WEF) yang mengenalkan konsep Revolusi Industri 4.0. Dalam
bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution”, Prof Schawab (2017) menjelaskan
revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara
fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri
generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih
luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan
biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan
pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi
baru diantaranya robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic),
teknologi nano, bioteknologi, dan teknologi komputer kuantum, blockchain
(seperti bitcoin), teknologi berbasis
internet, dan printer 3D. Revolusi industri 4.0 merupakan fase keempat dari
perjalanan sejarah revolusi industri yang dimulai pada abad ke -18. Menurut
Prof Schwab, dunia mengalami empat revolusi industri. Revolusi industri 1.0
ditandai dengan penemuan mesin uap untuk mendukung mesin produksi, kereta api
dan kapal layar. Berbagai peralatan kerja yang semula bergantung pada tenaga
manusia dan hewan kemudian digantikan dengan tenaga mesin uap. Dampaknya,
produksi dapat dilipatgandakan dan didistribusikan ke berbagai wilayah secara
lebih masif. Namun demikian, revolusi industri ini juga menimbulkan dampak
negatif dalam bentuk pengangguran masal. Ditemukannya enerji listrik dan konsep
pembagian tenaga kerja untuk menghasilkan
produksi dalam jumlah besar pada awal abad 19 telah menandai lahirnya
revolusi industri 2.0. Enerji listrik mendorong para imuwan untuk menemukan
berbagai teknologi lainnya seperti lampu, mesin telegraf, dan teknologi ban
berjalan. Puncaknya, diperoleh efesiensi produksi hingga 300 persen.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat pada awal abad
20 telah melahirkan teknologi informasi dan proses produksi yang dikendalikan
secara otomatis. Mesin industri tidak lagi dikendalikan oleh tenaga manusia
tetapi menggunakan Programmable Logic Controller (PLC) atau sistem otomatisasi
berbasis komputer. Dampaknya, biaya produksi menjadi semakin murah. Teknologi
informasi juga semakin maju diantaranya teknologi kamera yang terintegrasi
dengan mobile phone dan semakin berkembangnya industri kreatif di dunia musik
dengan ditemukannya musik digital.
Revolusi industri
mengalami puncaknya saat ini dengan lahirnya teknologi digital yang berdampak masif terhadap hidup manusia di
seluruh dunia. Revolusi industri terkini atau generasi keempat mendorong sistem
otomatisasi di dalam semua proses aktivitas. Teknologi internet yang semakin
masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi
perdagangan dan transportasi secara online. Munculnya bisnis transportasi online seperti Gojek,
Uber dan Grab menunjukkan integrasi aktivitas manusia dengan teknologi
informasi dan ekonomi menjadi semakin meningkat. Berkembangnya teknologi
autonomous vehicle (mobil tanpa supir), drone, aplikasi media sosial,
bioteknologi dan nanoteknologi semakin menegaskan bahwa dunia dan kehidupan
manusia telah berubah secara fundamental.

Gambar
1. Revolusi Industri 4.0 (Sumber: www.kompasiana.com)
2.2 Prinsip
Rancangan Revolusi Industri 4.0
Dikutip dari
Wikipedia, revolusi industri 4.0 memiliki empat prinsip yang memungkinkan
setiap perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai
skenario industri 4.0, diantaranya adalah:
1.
Interoperabilitas (kesesuaian); kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan
manusia untuk terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain melalui media
internet untuk segalanya (IoT) atau internet untuk khalayak (IoT).
2.
Transparansi Informasi; kemampuan sistem informasi untuk
menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik
digital dengan data sensor.
3.
Bantuan Teknis; pertama kemampuan sistem bantuan untuk
membantu manusia mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar dapat membuat
keputusan yang bijak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu
manusia melakukan berbagai tugas yang berat, tidak menyenangkan, atau tidak
aman bagi manusia.
4. Keputusan Mandiri; kemampuan sistem siber-fisik untuk
membuat keputusan dan melakukan tugas semandiri mungkin.
2.3 Era Disrupsi
Seperti yang disampaikan oleh
Presiden Joko Widodo, revolusi industri 4.0 telah mendorong inovasi-inovasi
teknologi yang memberikan dampak disrupsi atau perubahan fundamental terhadap
kehidupan masyarakat. Perubahan-perubahan tak terduga menjadi fenomena yang
akan sering muncul pada era revolusi indutsri 4.0. Kita menyaksikan pertarungan
antara taksi konvensional versus taksi online atau ojek pangkalan vs ojek online.
Publik tidak pernah menduga sebelumnya bahwa
ojek/taksi yang populer dimanfaatkan
masyarakat untuk kepentingan mobilitas manusia berhasil ditingkatkan
kemanfaatannya dengan sistem aplikasi berbasis internet. Dampaknya, publik
menjadi lebih mudah untuk mendapatkan layanan transportasi dan bahkan dengan
harga yang sangat terjangkau. Yang lebih tidak terduga, layanan ojek online
tidak sebatas sebagai alat transportasi alternatif tetapi juga merambah hingga
bisnis layanan antar (onlinedelivery order). Dengan kata lain, teknologi online
telah membawa perubahan yang besar terhadap peradaban manusia dan ekonomi.
Menurut Prof Rhenald Kasali (2017), disrupsi tidak
hanya bermakna fenomena perubahan hari
ini (today change) tetapi juga mencerminkan makna fenomena perubahan hari esok
(the future change). Prof Clayton M. Christensen, ahli administrasi bisnis dari
Harvard Business School, menjelaskan bahwa era disrupsi telah mengganggu atau
merusak pasar-pasar yang telah ada sebelumnya tetapi juga mendorong
pengembangan produk atau layanan yang tidak terduga pasar sebelunya,
menciptakan konsumen yang beragam dan berdampak terhadap harga yang semakin
murah (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Inovasi_disruptif ). Dengan
demikian, era disrupsi akan terus melahirkan perubahan-perubahan yang
signifikan untuk merespon tuntutan dan kebutuhan konsumen di masa yang akan datang.
2.4
Tantangan
Revolusi industri generasi empat tidak hanya
menyediakan peluang, tetapi juga tantangan bagi generasi milineal. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi indutri juga diikuti
dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia vs mesin, dan
tuntutan kompetensi yang semakin tinggi.
Menurut Prof Dwikorita Karnawati (2017), revolusi
industri 4.0 dalam lima tahun mendatang akan menghapus 35 persen jenis
pekerjaan. Dan bahkan pada 10 tahun yang akan datang jenis pekerjaan yang akan
hilang bertambah menjadi 75 persen. Hal ini disebabkan pekerjaan yang diperankan oleh manusia
setahap demi setahap digantikan dengan teknologi digitalisasi program.
Dampaknya, proses produksi menjadi lebih cepat dikerjakan dan lebih mudah
didistribusikan secara masif dengan keterlibatan manusia yang minim. Di Amerika
Serikat, misalnya, dengan berkembangnya sistem online perbankan telah
memudahkan proses transaksi layanan perbankan. Akibatnya, 48.000 teller bank
harus menghadapi pemutusan hubungan kerja karena alasan efisiensi.
Namun demikian, bidang pekerjaan yang berkaitan
dengan keahlian Komputer, Matematika, Arsitektur dan Teknik akan semakin banyak
dibutuhkan. Bidang-bidang keahlian ini diproyeksikan sesuai dengan tuntutan
pekerjaan yang mengandalkan teknologi digital. Situasi pergeseran tenaga kerja
manusia ke arah digitalisasi merupakan bentuk tantangan yang perlu direspon oleh pendidik. Tantangan ini
perlu dijawab dengan peningkatan kompetensi
pendidik maupun anak didik terutama penguasaan teknologi komputer,
keterampilan berkomunikasi, kemampuan
bekerjasama secara kolaboratif, dan kemampuan untuk terus belajar dan adaptif
terhadap perubahan lingkungan.
Inovasi dan kemajuan di mana-mana dipimpin oleh
kemunculan kuat bidang seperti Kecerdasan Buatan, Robotika, halaman internet,
kendaraan robot, bioteknologi, nanoteknologi,
pencetakan 3-D, ilmu material, komputasi quantum, dan penyimpanan
energi. Dampak dari teroboan tersebut begitu pesat. Karena menghadapi
berjalannya RI 4.0 tersebut maka dunia
pendidikan juga harus mengantisipasi dan mulai lebih awal dengan
pendidikan 4.0 sebuah langkah kecil untuk memenuhi tujuan tersebut. Pendidikan
tidak terbatas pada kelas. Pendidikan 4.0 berkembang pada premis dasar. Ruang
kelas online telah memfasilitasi pembelajaran dengan lebih banyak cara daripada
yang pernah kita bayangkan. Pendidikan sekarang dipandang lebih sebagai proses
seumur hidup daripada ritual yang berorientasi pada kelas atau dalam hal ini
hanya sekedar batu loncatan ke dunia profesional. Peserta didik dan pendidik
sekarang akan mencari cara untuk mendefinisikan kembali cara-cara di mana
pembelajaran selalu mempengaruhi kehidupan mereka. Pendidikan 4.0 tentang
bagaimana sekolah menyiapkan untuk memasuki babak baru dunia pendidikan yang
berubah begitu cepat.
Jika mengacu pendapat Martadi Ketua Dewan Pendidikan
Surabaya, Era revolusi industri 4.0 juga mengubah cara pandang tentang
pendidikan. Perubahan yang dilakukan tidak hanya sekadar cara mengajar, tetapi
jauh yang lebih esensial, yakni perubahan cara pandang terhadap konsep pendidikan
itu sendiri. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya
menghadapi tiga hal: a) menyiapkan anak untuk bisa bekerja yang pekerjaannya
saat ini belum ada; b) menyiapkan anak untuk bisa menyelesaikan masalah yang
masalahnya saat ini belum muncul, dan c) menyiapkan anak untuk bisa menggunakan
teknologi yang sekarang teknologinya
belum ditemukan. Sungguh sebuah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi
dunia pendidikan. Untuk bisa menghadapi semua tantangan tersebut, syarat
penting yang harus dipenuhi adalah
bagaimana menyiapkan kualifikasi dan kompetensi guru yang berkualitas.
Pasalnya, di era revolusi industri 4.0 profesi guru makin kompetitif.
2.5
Analisis
SWOT
·
Strengths
Pemerintah
Indonesia sudah mulai berbenah menanggapi adanya perubahan industri dengan
meluncurkan roadmap ‘Making Indonesia 4.0’ sebagai strategi untuk memuluskan
langkah Indonesia menjadi salah satu kekuatan baru di Asia pada April 2018
lalu. Roadmap ini memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional
di masa depan, termasuk fokus pada pengembangan sektor prioritas yang akan
menjadi kekuatan Indonesia menuju Industri 4.0.
Pemerintah
memilih sektor makanan dan minuman, tekstil, otomotif, kimia, serta elektronik
sebagai fokus dalam program revolusi Industri 4.0. Pemilihan kelima sektor
tersebut bukan tanpa alasan, selain pelaksanaannya yang lebih mudah karena
sudah lebih siap, sektor tersebut juga dapat memberikan dampak yang besar bagi
pertumbuhan industri dan ekonomi Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh
Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dalam acara Obsat ke-202 bertajuk
“Menuju Indonesia 4.0” di Paradigma Cafe, Jakarta (Jumat, 11/5/2018). Di
samping itu, Airlangga menegaskan bahwa kelima sektor tersebut juga memiliki
kontribusi yang besar terhadap ekspor, tenaga kerja, dan Produk Domestik Bruto
(PDB).
·
Weaknesses
Kendati
memiliki sumber daya manusia (SDM) yang banyak dan sumber daya alam yang
melimpah, Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia yang rendah. Karena
kualitas rendah, maka produktivitas tenaga kerja Indonesia juga rendah.
Produktivitas
tenaga kerja Indonesia berada pada urutan keempat di tingkat ASEAN dan urutan
ke-11 dari 20 anggota negara anggota ASEAN Productivity Organisation (APO).
Sedangkan, untuk daya saing, saat ini Indonesia berada pada urutan ke-36 dari
137 negara di tingkat ASEAN dan urutan ke-9 dari negara-negara yang tercatat
dalam The Global Competitiveness Report 2017–2018.
·
Opportunities
Dengan
implementasi industri 4.0, target besar nasional dapat tercapai. Target itu
antara lain membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030,
mengembalikan angka ekspor netto industri sebesar 10 persen, dan meningkatkan
produktivitas tenaga kerja industri hingga dua kali lipat dibandingkan
peningkatan biaya tenaga kerja industri dengan mengadopsi teknologi dan inovasi
yang mampu menciptakan kurang lebih 10 juta lapangan kerja baru di tahun 2030.
·
Threats
Revolusi
industri 4.0 tidak datang tanpa membawa masalah baru. Salah satu masalah yang
mungkin ditimbulkan oleh revolusi ini yakni terciptanya pengangguran yang
dipengaruhi oleh melebarnya ketimpangan ekonomi.
Digitalisasi
dapat menggeser peran konvensional di dalam pasar. Sopir transportasi
konvensional seperti sopir ojek pangkalan, angkot, dan taksi berpeluang masuk
jurang pengangguran akibat kemunculan transportasi daring yang dinilai jauh
lebih murah dan nyaman di mata masyarakat saat ini. Tidak hanya itu, pedagang
di kios-kios tradisional dapat merugi dan akhirnya bangkrut akibat gelombang
e-commerce melalui kemunculan berbagai toko daring yang menyediakan barang yang
lebih bervariasi, murah, dan mudah diakses.
Tidak
hanya digitalisasi, ke depan, penggunaan robot dalam mendukung otonomisasi di
ranah industri manufaktur dan jasa akan semakin tidak terelakkan. Hal ini
didorong keinginan perusahaan untuk memangkas biaya yang ditimbulkan sumber
daya manusia. Tuntutan kenaikan upah yang tidak diiringi dengan produktivitas
menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami oleh perusahaan terkait
dengan sumber daya manusia.
Perkembangan
teknologi yang pesat cepat atau lambat akan berpengaruh pada permintaan tenaga
kerja di masa depan. Ke depan, permintaan tenaga kerja bergeser. Industri akan
cenderung memilih tenaga kerja terampil menengah dan tinggi (middle and
highly-skilled labor) ketimbang tenaga kerja kurang terampil (less-skilled
labor) karena perannya dalam mengerjakan pekerjaan repetisi dapat digantikan
dengan otonomisasi robot.
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Revolusi industri 4.0 akan membawa banyak
perubahan dengan segala konsekuensinya, industri akan semakin kompak dan
efisien. Namun ada pula risiko yang mungkin muncul, misalnya berkurangnya
Sumber Daya Manusia karena digantikan oleh mesin atau robot.
Dunia saat ini memang tengah mencermati revolusi
industri 4.0 ini secara saksama. Berjuta peluang ada di situ, tapi di sisi lain
terdapat berjuta tantangan yang harus dihadapi. Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya
Internet of/for Things, kehadirannya begitu cepat.
Banyak hal yang tak terpikirkan sebelumnya,
tiba-tiba muncul dan menjadi inovasi baru, serta membuka lahan bisnis yang
sangat besar. Munculnya transportasi dengan sistem ride-sharing seperti Go-jek,
Uber, dan Grab. Kehadiran revolusi industri 4.0 memang menghadirkan usaha baru,
lapangan kerja baru, profesi baru yang tak terpikirkan sebelumnya.
2.6 Saran
Apabila terdapat kekurangan dalam data-data yang
penulis susun maka penulis memohon kepada pembaca agar memberi masukan atau
menyempurnakan makalah ini. Adapun penulis mendapatkan sumber data yang belum
tentu sempurna.
DAFTAR
PUSTAKA
·
id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri
·
Karnawati,
D. 2017.Revolusi industri, 75% jenis pekerjaan akan hilang. Diambil dari
https://ekbis.sindonews.com/read/1183599/34/r
evolusi-industri-75-jenis-pekerjaan-akan-hilang-1488169341
·
Kasali,
R. 2017. Meluruskan Pemahaman soal Disruption. Diambil dari
https://ekonomi.kompas.com/read/2017/05/05/073000626/meluruskan.pemahaman.soal.
disruption.
·
Rakhmat,
J. 1997. Hegemoni budaya. Yogyakarta: Yayasan. Bentang Budaya.
·
Schwab,
K. 2017. The fourth industrial revolution. Crown Business Press.
·
Tofler,
A. 1970. Future shock . USA: Random House.
·
Untung
rugi revolusi industri 4.0 versi Presiden Jokowi. 2018. Diambil November
https://www.merdeka.com/uang/untung-rugi-revolusi-industri-40-versi-presiden-
jokowi.html
·
www.anneahira.com/penemuan-penemuan-saat-revolusi-industri.htm
Comments
Post a Comment