MAKALAH TENTANG PENDIDIKAN KESEHATAN PROMKES
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
selesainya makalah yang berjudul "Pendidikan Kesehatan”. Dan
harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun
pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh
karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembacanya.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah "Pendidikan Kesehatan” dan
ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.
Ophir, 02 Januari 2020
Yunaweli
DAFTAR ISI
COVER
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pendidikan Kesehatan............................................................................. 3
B.
Tujuan Pendidikan Kesehatan................................................................................... 4
C.
Metode Promosi Kesehatan....................................................................................... 6
D.
Media Dalam Promosi Kesehatan.............................................................................. 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................................................ 23
B.
Saran.......................................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang
Berbicara kesehatan masyarakat tidak terlepas
dari dua tokoh meteologi Yunani yaitu Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita
mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang
tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang
telah ditempuhnya, tetapi diceritakan bahwa ia telah mengobati penyakit dan
bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dengan baik.
Menurut Winslow (1920) bahwa Kesehatan
Masyarakat adalah ilmu dan seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan
meningkatkan kesehatanm melalui “Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat” untuk
:
a. Perbaikan sanitasi lingkungan
b. Pemberantasan penyakit-penyakit manular
c. Pendidikan untuk kebersihan perorangan
d. Pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan
perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan
e. Pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin
setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya
Menurut Ikatan Dokter
Amerika (1948) Kesehatan Masyarakat adlah ilmu dan seni memelihara, melindungi
dan meningkatkan kesehatan msyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian
masyarakat.
Salah
satu misi mewujudkan visi bangsa Indonesia masa depan telah termuat dalam
Garis-Garis Besar Haluan Negara yaitu mewujudkan sistem dan iklim pendidikan
nasional yang demokratis dan bermutu guna memperteguh akhlak mulia, kreatif,
inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin dan bertanggungjawab,
berketerampilan serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka
mengembangkan kualitas manusia Indonesia Terlihat dengan jelas GBHN
mengamanatkan arah kebijakan di bidang pendidikan yaitu: meningkatkan kemampuan
akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga
kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama
dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan
wibawa lembaga dan tenaga kependidikan; memberdayakan lembaga pendidikan baik
sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan
kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung
oleh sarana dan prasarana memadai.
Sementara
itu, UU 20 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa Pendidikan Nasional
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Dari batasan kedua
diatas, dapat disimpulkan bahwa kesehatan masyarakat itu meluas dari hanya
berurusan sanitasi, teknik sanitasi, ilmu kedokteran kuratif, ilmu kedokteran
pencegahan sampai dengan ilmu sosial, dan itulah cakupan ilmu kesehatan
masyarakat. Untuk itu perlu adanya pendidikan kesehatan agar kesehatan
masyarakat dapat lebih ditingkatkan dan dilaksanakan oleh masyarakat.
Maka dari itu penulis
tertarik untuk mengambil judul makalah “Pendidikan Kesehatan.”
1.2.Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian pendidikan kesehatan ?
2.
Apa saja Tujuan pendidikan kesehatan ?
3.
Apa saja macam metode pendidikan kesehatan ?
4.
Apa saja media pendidikan kesehatan ?
1.3.Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui Pengertian pendidikan
kesehatan ?
2.
Untuk mengetahui Tujuan pendidikan kesehatan ?
3.
Untuk mengetahui macam metode pendidikan kesehatan ?
4.
Untuk mengetahui media pendidikan kesehatan ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan
Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang
mampu meningkatkan kontrol dam memperbaiki kesehatan individu. Kesempatan yang
direncanakan untuk individu, kelompok atau masyarakat agar belajar tentang
kesehatan dan melakukan perubahan-perubahan secara suka rela dalam tingkah laku
individu (Entjang, 1991)
Wood dikutip dari Effendi (1997), memberikan
pengertian pendidikan kesehatan merupakan sejumlah pengalaman yang berpengaruh
menguntungkan secara kebiasaan, sikap dan pengetahuan ada hubungannya dengan
kesehatan perseorangan, masyarakat, dan bangsa. Kesemuanya ini, dipersiapkan
dalam rangka mempermudah diterimanya secara suka rela perilaku yang akan
meninhkatkan dna memelihara kesehatan.
Menurut Stewart dikutip dari Effendi (1997),
unsur program ksehatan dan kedoktern yang didalamnya terkandung rencana untuk
merubah perilaku perseorangan dan masyarakat dengan tujuan untuk membantu
tercapainya program pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan.
Menurut Ottawwa Charter (1986) yang dikutip dari
Notoatmodjo S, memberikan pengertian pendidikan kesehatan adalah proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik
fisik, mental dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan
aspirasinya, kebutuhannya, dan lingkungannya (lingkungan fisik, sosial, budaya,
dan sebagainya).
Dapat dirumuskan bahwa pengertian pendidikan
kesehatan adalah upaya untuk memengaruhi, dan atau memengaruhi orang lain, baik
individu, kelompok, atau masyarakat, agar melaksanakan perilaku hidup sehat.
Sedangkan secara operasional, pendidikan kesehatan merupakan suatu kegiatan
untuk memberikan dn atau meningkatkan pengetahuan, sikap, an praktik masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2003).
B. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan
utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu menerapkan masalah dan
kebutuhan mereka sendiri, mampu memahami apa yg dapat mereka lakukan terhadap
masalahnya, dengan sumber daya yg ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari
luar, dan mampu memutuskan kegiatan yg tepat guna untuk meningkatkan taraf
hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat (Mubarak, 2009).
Menurut
Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 dan WHO, tujuan pendidikan kesehatan
adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan
derajat kesehatan; baik secara fisik, mental dan sosialnya, sehingga produktif
secara ekonomi maupun social, pendidikan kesehatan disemua program kesehatan;
baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan
kesehatan, maupun program kesehatan lainnya (Mubarak,
2009).
Menurut
Benyamin Bloom (1908) tujuan pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan
3 domain perilaku yaitu kognitif (cognitive domain), afektif (affective domain),
dan psikomotor (psychomotor domain). (Notoatmodjo,
2003: 127)
Menurut Notoatmodjo (2007: 139) dalam perkembangannya,
teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan,
yakni:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour).
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:
·
Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang
telah dipelajari sebelumnya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu obyek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih didalam
struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan
yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
1. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek.
Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
1. Praktik atau tindakan
(practice)
Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:
1) Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
2) Respon terpimpin (guided response)
Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang
benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua.
3) Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan
benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia
sudah mencapai praktik tingkat tiga.
4) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah
berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa
mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
C. Metode Promosi Kesehatan
Pendidikan
kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha menyampaikan pesan
kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan bahwa
dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat
memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut
pada akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain
dengan adanya promosi kesehtan tersebut diharapkan dapat membawa akibat
terhadap perubahan perilaku kesehatan dari sasaran.
Promosi/pendidikan
kesehatan juga sebagau suatu proses dimana proses tersebut mempaunyai masukan
(input) dan keluaran (output). Di dalam suatu proses pendidikan kesehayan yang
menuju tercapainya tujuan promosi, yakni perubahan perilaku, dipegaruhi oleh
banyak faktor. Faktor yang mempengaruhi suatu proses pendidikan disamping
faktor masukannya sendiri juga metode, faktor materi aytau pesanya, pendidik
atau petugas yang melakukannya, dan alat-alat bantu media yang digunakan untuk
menyampaikan pesan. Agar dicapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor tersebut
harus bekerja sama secara harmonis. Hal ini berarti bahwa untuk masukan
(sasaran pendidikan) tertentu harus menggunakan cara tertentu pula. Materi juga
harus disesuaikan dengan sasaran.
Demikian juga lat bentu pendidikan disesuaikan. Untuksasaran kelompok,
maka metodenya harus berbeda dengan sasaran media massa dan sasaran individual.
Untuk sasaran masssa pun harus berbeda dengan sasaran individual dan
sebagainya. Dibawah ini diuraikan beberapa metode promosi atau pendidikan
individual, kelompok dan massa (publik).
1. Metode
Individual (Perorangan)
Dalam pendidikan
kesehatan, metode yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku
baru, atau membina seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan
perilaku atau inovasi. Misalnya, seorang ibu yang baru saja menjadi akseptor
atau seorang ibu hamil yang sedang tertarik terhadap imunisasi Tetanus Toxoid
(TT) karena baru saja memperoleh/mendengarkan penyuluhan kesehatan. Pendekatan
yang digunakan agar ibu tersebut menjadi akseptor lestari atau ibu hamil segera
minta imunisasi, ia harus didekatai secara perorangan. Perorangan disini tidak
berarti hanya harus hanya kepada ibu-ibu yang bersangkutan, tetapi mungkin juga
kepda suami atau keluarga ibu tersebut.
Dasar digunakannya
pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai maslah atau alasan yang
berbeda-beda sehubungan dengan penerimaaan atau perilaku baru tersebut. Agar
petugas kesehatan mengetahui dengan tepat serta membantunya maka perlu
mengginakan metode (cara) ini.
Bentuk pendekatan ini, antara lain:
a. Bimbingan dan
penyuluhan (guidance and counseling)
Dengan cara ini kontak antara
klien dan petugas lebih intensif. Setiap maslah yang dihadapi oleh klien dapat
dikorek dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien akan dengan sukarela,
berdasarkan kesadaran, dnegan penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut
(mengubah perilaku).
b. Interview (wawancara)
Cara ini sebenarnya
merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas
kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum
menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima perubahan, untuk
mempengaruhi apakah perilaku yang sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai
dasar pengertian dan kesadaran yang kuat. Apalagi belum maka perlu penyuluhan
yang lebih mendalam lagi.
c. Metoda kelompok
Dalam memilih metode
kelompok, harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan
formal dari sasaran.
Untuk kelompok yang
besar, metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektivitas suatu metode akan
tergantung pada besarnya sasaran pendidikan.
1. Kelompok
Besar
Yang
dimaksud kelompok besar disini adalah apabila pserta penyuluhan itu lebih dari
15 orang. Metode yang baik untuk kelompok besar ini, antara lain ceramah dan
seminar.
a. Ceramah
Metode
ini baik untuk sasaran pendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal uang perlu
diperhatikan dalam menggunakan metoda ceramah:
Persiapan:
· Ceramah
yang berhasil apabila penceramah itu sendiri menguasai materi apa yang akan
diceramahkan. Untuk itu penceramah harus mempersiapkan diri.
·
Mempelajari materi dengan sistematika yang baik. Lebih baik lagi kalau
disusun dalam diagram atau skema.
·
Mempersiapkan alat-alat bantu pengajaran, misalnya makalah singkat,
slide, transparan, sound sistem, dan sebagainya.
Pelaksanaan:
Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah adalah
apabila penceramah dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai
sasaran (dalam arti psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai
berikut:
· Sikap dan
penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah.
· Suara hendaknya cukup keras dan jelas.
· Pandangan
harus tertuju ke seluruh peserta ceramah.
· Berdiri
di depan (di pertengahan), seyogianya tidak duduk.
·
Menggunakan alat-alat bantu lihat (AVA) semaksimal mungkin.
b. Seminar
Metode
ini hanya cocok untukpendidikan menengah ke atas. Seminar adalah suatu
penyajian (presentasi) dari seorang ahli atau beberapa orang ahli tentang suatu
topic yang dianggap penting dan dianggap hangat masyarakat.
2. Kelompok
Kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang
biasanya kita sebut kelompok kecil. Metode-metode yang cocok untuk kelompok
kecil antara lain:
a. Diskusi Kelompok
Dalam
diskusi kelompok agar semua anggota klompok dapat bebas berpartisipasi dalam
diskusi, maka formasi duduk para peserta diatur sedemikian rupa sehingga mereka
dapt berhadap-hadapan atau saling memandang satu sama lain, misalnya dalam
bentuk lingkaran atau segi empat. Pimpinan diskusi juga duduk di antara peserta
sehingga tidak menimbulkan kesan yang lebih tinggi. Dengan kata lain mereka
harus merasa dalam taraf yang sama sehingga tiap anggota kelompok mempunyai
kebebasan/keterbukaan untuk mengeluarkan pendapat.
Untuk
memulai diskusi, pemimpin diskusi harus memberikan pancingan-pancingan yang
dapat berupa pertanyaan-petanyaan atau kasus sehubungan dengan topic yang
dibahas. Agar terjadi diskusi yang hidup maka pemimpin kelompok harus
mengarahkan dan megatur sedemikian rupa sehingga semua orang dapat kesempatan
berbicara, sehingga tidak menimbulkan dominasi dari salah seorang peserta.
b. Curah Pendapat (Brain Storming)
Metode
ini merupakan modifikasi metode diskusi kelompok. Prinsipnya sana dengan metode
diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaan pemimpin kelompok memancing dengan
satu masalah dan kemudian tiap peserta memberikan jawaban atau tanggapan (curah
pendapat). Tanggapan atau jawaban-jawaban tersebut ditampung dan ditulis dalam
flipchart atau papan tulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya,
tidak boleh dikomentari oleh siapa pun. Baru setelah semua anggota dikeluarkan
pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari, dan akhirnya terjadi diskusi.
c. Bola Salju (Snow Bailing)
Kelompok
dibagi dalam pasangan-pasangan (1 pasang 2 orang) dan kemudian dilontarkan
suatu pertanyaan atau masalah. Setelah lebih kurang 5 menit maka tiap 2pasang
bergabung menjadi satu. Msreka tetap mendiskusikan masalah tersebut, dan mencari kesimpulannya.
Kemudian tiap 2 pasang yang sudah beranggotakan 4 orang ini bergabung lagi
dengan pasangan lainnya, demikian seterusnya sehingga akhirnya akan terjadi
diskusi seluruh anggota kelompok.
d. Kelompok-kelompok Kecil (Buzz Group)
Kelompok
langsung dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil
(buzz group) yang kemudian diberi suatu permasalahan yang sama atau
tidak sama dengan kelompok lain, Masing-masing kelompok mendiskusikan masalah
tersebut, Selanjutnya hasil dan tiap
kelompok didiskusikan kembali dan dicari kesimpulannya.
e. Role Ploy (Memainkan Peranan)
Dalam
metode ini beberapa anggota kelompok ditunjuk sebagai pemegang peran tertentu
untuk memainkan peranan, misalnya sebagai dokter Puskesmas, sebagai perawat
atau bidan, dan sebagainya, sedangkan anggota yang lain sebagai pasien atau
anggota masyarakat. Mereka memperagakan, misalnya bagaimana interaksi atau
berkomunika sehari-hari dalam melaksanakan tugas.
f. permainan Simulasi (Simulation Game)
Metode
ini merupakan gabungan antara role play dengan diakusi kelompok. Pesan-pesan
kesehatan disajikan da lam beberapa bentuk permainan seperti permainan
monopoli. Cara memainkannya persis seperti bermain monopoli, dengan menggunakan
dadu, gaco (petunjuk arah), selain beberan atau papan main. Beberapa orang
menjadi pemain, dan sebagian lagi berperan sebagai narasumber.
g. Metode Massa
Metode
pendidikan kesehatan secara massa dipakai untyuk mengomunikasikan pesan-pesan
kesehatan yang ditujukkan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau publik.
Dengan demikian cara yang paling tepat adalah pendekatan massa. Oleh karena
sasarn promosi ini bersifat umum, dalam arti tidak membedakan golongan umur,
jenis kelamin, pekerjaan, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan, dan
sebagainya, maka pesan-pesan kesehatan yang akan disampaikan harus dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa tersebut. Pendekan ini
biasanya digunakan untuk menggugah awareness atau kesadaran masyarakat terhadap
suatu inovasi, dan belum begitu diharapkan untuk sampai pada perubahan
perilaku. Namun demikian, bila kemudian dapat berpengaruh terhadap perubahan
perilaku juga merupakan hal yang wajar. Pada umumnya bentuk pendekatan (cara)
massa ini tidak langsung. Biasanya dengan menggunakan atau melalui media massa.
Beberapa contoh metode pendidikan kesehatan secara
massa ini, antara lain :
1.
Ceramah umum (public speaking)
Pada acar-acara tertentu, misalnya pada Hari Kesehatan
Nasional, Menteri Kesehatan atau pejabat kesehatan lainnya berpidato dihadapan
massa rakyat untuk menyampaikan
pesan-pesan kesehatan. Safari KB juga
merupakan salah satu bentuk pendekatan
massa.
2.
Pidato-pidato/ diskusi tentang kesehatan melalui media
elektronik, baik TV maupun radio, pada hakikatnya merupakan bentuk promosi
kesehatan massa.
3.
Simulasi, dialog antara pasien dengan dokter atau
petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan adalah
juga merupakan pendekatan pendidikan kesehatan massa.
4.
Tulisan-tulisan di majalah atau koran, baik dalam
bentuk artikel maupun tanya jawab atau konsultasi tentang kesehatan adalah
merupakan bentuk pendekatan promosi kesehatan massa.
5.
Bill Board, yang dipasang di pinggir jalan, spanduk,
poster, dan sebagainya juga merupakan bentuk promosi kesehatan massa. Contoh :
billboard Ayo ke Posyandu
D. Media Dalam Promosi Kesehatan
Kata
media berasal dari bahasa latin “medius” yang berarti tengah, perantara, atau
pengantar. Secara harfiah dalam bahasa Arab, media berarti perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media atau alat peraga dalam
promosi kesehatan dapat diartika sebagai alat bantu promosi kesehatan yang
dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk memperlancar
komunikasi dan oenyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan adalah semua
saranana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan
oleh komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang,
sehingga pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah
perilaku ke arah positif terhadap kesehatan (Soekidjo, 2005).
Alat
peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan foto
dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi
maupun tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu alat peraga harus
mudah dimengerti oleh masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung
didalamnya harus dapat diterima oleh sasaran. Alat peraga yang digunakan secara
baik memberikan keuntungan-keuntungan, antara lain :
1. Dapat
menghindari kesalahan pengertian/pemahaman atau salah tafsir.
2. Dapat
memperjelas apa yang diterangkan dan dapat lebih mudah ditangkap.
3. Apa yang
diterangkan akan lebih lama diingat, terutama hal-hal yang mengesankan.
4. Dapat
menarik serta memusatkan perhatian.
5. Dapat
memberi dorongan yang kuat untuk melakukan apa yang dianjurkan.
a. Tujuan Media Promosi
1. Media
dapat mempermudah penyampaian informasi.
2. Media
dapat menghindari kesalahan persepsi.
3. Media
dapat memperjelas informasi.
4. Media
dapat mempermudah pengertian.
5. Media
dapat mengurangi komunikasi yang verbalistis.
6. Media
dapat menampilkan objek yang tidak bisa ditangkap mata.
7. Media
dapat memperlancar komunikasi.
b. Langkah-Langkah Penetapan Media
Langkah-langkah dalam merancang pengembangan media
promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1.
Menetapkan tujuan
Tujuan harus relaistis, jelas, dan dapat diukur (apa
yang diukur, siapa sasaran yang akan diukur, seberapa banyak perubahan akan
diukur, berapa lama dan dimana pengukuran dilakukan). Penetapan tujuan
merupakan dasar untuk merancang media promosi dan merancang evaluasi.
2.
Menetapkan segmentasi sasaran
Segmentasi sasaran adalah suatu kegiatan memilih
kelompok sasaran yang tepat dan dianggap sangat menentukan keberhasilan promosi
kesehatan. Tujuannya antara lain memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya,
memberikan kepuasan pada masing-masing segmen, menentukan ketersediaan jumlah
dan jangkauan produk, serta menghitung jenis dan penempatan media.
3.
Memposisikan pesan (positioning)
Memposisikan pesan adalah proses atau upaya
menempatkan suatu prosuk perusahaan, individu atau apa saja ke dalam alam
pikiran sasaran atau konsumennya. Positioning membentuk citra.
4.
Menentukan strategi positioning
Identifikasi para pesaing, termasuk persepsi konsumen,
menentukan posisi pesaing, menganalisis preferensi khalayak sasaran, menetukan
posisi merek produk sendiri, serta mengikuti perkembangan posisi.
6.
Memilih media promosi kesehatan
Pemilihan media didasarkan pada selera khalayak
sasaran. Media yang dipilih harus memberikan dampak yang luas. Setiap media
akan memberikan peranan yang berbeda. Penggunaan beberapa media secara seremoak
dan terpadu akan meningkatkan cakupan, frekuensi, dan efektivitas pesan.
c. Penggolongan Media Kesehatan
Media dapat digolongkan menjadi dua, berdasarkan
bentuk umum penggunaan dan berdasarkan cara produksi.
1.
Berdasarkan bentuk umum penggunaan.
a.
Bahan bacaan : modul, buku rujukan/bacaan, leaflet
majalah, buletin, tabloid, dan lain-lain.
b.
Bahan peragaan : poster tunggal, poster seri, flip
chart, transparansi, slide, film, dan lain-lain.
2.
Berdasarkan cara produksi
a. Media cetak.
Media
cetak yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-pesan visual. Pada
umumnya terdiri atas gambaran sejumlah kata, gambar, atau foto dalam tata
warna. Contohnya poster, leaflet, brosur, majalah, surat kabar, lembar balik,
stiker, dan pamflet. Fungsi utamanya adalah memberi informasi dan menghibur.
Kelebihan yang dimiliki media cetak antara lain tahan lama, mencakup banyak
orang, biaya tidak terlalu tinggi, tidak perlu energi listrik, dapat dibawa,
mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar. Kelemahannya tidak
dapat menstimulasi efek suara dan efek gerak serta mudah terlipat.
b. Media elektronik.
Media elektronik aitu suatu media bergerak,
dinamis, dapat dilihat, didengar, dan dalam menyampaikan pesannya melalui alat
bantu elektronika. Contohnya televisi, radio, film, kaset, CD, VCD, DVD, slide
show, CD interaktif, dan lain-lain. Kelebihan media elektronik antara lain
sudah dikenal masyarakat, melibatkan semua pancaindra, lebih mudah dipahami,
lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap muka, penyajian dapat
dikendalikan, janagkauan relatif lebih besar/luas, serta dapat diulang-ulang
jika digunakan sebagai alat diskusi. Kelemahannya yaitu biaya lebih tinggi,
sedikit rumit, memerlukan energi listrik, diperlukan alat canggih dalam proses
produksi, perlu persiapan matang, peralatan yang selalu berkembang dan berubah,
perlu keterampilan penyimpanan, dan perlu keterampilan dalam pengoprasian
c. Media luar ruang
Media luar ruang yaitu suatu media yang
penyampaian pesannya di luar ruang secara umum melalui media cetak dan
elektronik secara statis. Contohnya papan reklame, spanduk, pameran, banner, TV
layar lebar, dan lain-lain. Kelebihan media luar ruang diantaranya sebagai
informasi umum dan hiburan, melibatkan semua pancaindra, lebih menarik karena ada suara dan gambar, adanya tatap
muka, penyajian dapat dikendalikan, jangkauan relatif lebih luas. Kelemahannya
yaitu biaya lebih tinggi, sedikit rumit, ada yang memerlukan listrik atau alat
canggih, perlu kesiapan yang matang, peralatan yang selalu berkembang dan
berubah, perlu keterampilan penyimpanan.
d. Jenis/Macam
Media
Alat-alat peraga dapat dibagi dalam empat kelompok
besar :
1. Benda
asli.
Benda asli adalah benda yang sesungguhnya, baik hidup
maupun mati. Jenis ini merupakan alat peraga yang paling baik karena mudah dan
cepat dikenal serta mempunyai bentuk atau ukuran yang tepat. Kelemahan alat
peraga ini tidak selalu mudah dibawa kemana-mana sebagai alat bantu mengajar.
Termasuk dalam alat peraga, antara lain benda sesungguhnya (tinja dikebun,
lalat di atas tinja, dan lain-lain), spesimen (benda yang telah diawetkan
seperti cacing dalam botol pengawet, dan lain-lain), sampel (contoh benda
sesungguhnya untuk diperdagangkan seperti oralit, dan lain-lain).
2. Benda
tiruan
Benda tiruan memiliki ukuran yang berbeda dengan benda
sesungguhnya. Benda tiruan bisa digunakan sebagai media atau alat peraga dalam
promosi kesehatan karena benda asli mungkin digunakan (misal, ukuran benda asli
yang terlalu besar, terlalu berat, dan lain-lain). Benda tiruan dapat dibuat
dari bermacam-macam bahan seperti tanah, kayu, semen, plastik, dan lain-lain.
3. Gambar
atau media grafis
Grafis secara umum diartikan sebagai gambar. Media
grafis adalah penyajian visual (menekankan persepsi indra penglihatan) dengan
penyajian dua dimensi. Media grafis tidak termasuk media elektronik. Termasuk
dalam media grafis antara lain, poster, leaflet, reklame, billboard, spanduk,
gambar karikatur, lukisan, dan lain-lain.
e. Pesan
Dalam Media
Pesan adalah terjemahan dari tujuan komunikasi ke
dalam ungkapan atau kata yang sesuai untuk sasaran. Pesan dalam suatu media
harus efektif dan kreatif. Oleh karena itu, pesan harus memenuhi hal-hal
sebagai berikut :
1.
Memfokuskan perhatian pada pesan (command attention)
Ide atau pesan pokok yang merefleksikan strategi
desain suatu pesan dikembangkan. Bila terlalu banyak ide, hal tersebut akan
membingungkan sasaran dan mereka akan mudah melupakan pesan tersebut.
2.
Mengklarifikasi pesan (clarify the message)
Pesan haruslah mudah, sederhana dan jelas. Pesan yang
efektif harus memberikan informasi yang relevan dan baru bagi sasaran. Kalau
pesan dalam media diremehkan oleh sasaran, secara otomatis pesan tersebut
gagal.
3.
Menciptakan kepercayaan (Create trust)
Pesan harus dapat dipercaya, tidak bohong, dan
terjangkau. Misalnya, masyarakat percaya cuci tangan pakai sabun dapat mencegah
penyakit diare dan untuk itu harus dibarengi bahwa harga sabun terjangkau atau
mudah didapat di dekat tempat tinggalnya.
4.
Mengkomunikasikan keuntungan (communicate a benefit)
Hasil pesan diharapkan akan memberikan keuntungan.
Misalnya sasaran termotivasi membuat jamban karena mereka akan memperoleh
keuntungan dimana anaknya tidak akan terkena penyakit diare.
5. Memastikan
konsistensi (consistency)
Pesan harus konsisten, artinya bahwa makna pesan akan
tetap sama walaupun disampaikan melalui media yang berbeda secara berulang;
misal di poster, stiker, dan lain-lain.
6. Cater to
heart and head
Pesan dalam suatu media harus bisa menyentuh akal dan
rasa. Komunikasi yang efektif tidak hanya sekadar memberi alasan teknis semata,
tetapi juga harus menyentuh nilai-nilai emosi dan membangkitkan kebutuhan
nyata.
7. Call to
action
Pesan dalam suatu media harus dapat mendorong sasaran
untuk bertindak sesuatu bisa dalam bentuk motivasi ke arah suatu tujuan.
Contohnya, “Ayo, buang air besar di jamban agar anak tetap sehat”.
f. Imbauan
Dalam Pesan
Dalam media promosi, pesan dimaksudkan untuk
memengaruhi orang lain atau menghimbau sasaran agar mereka menerima dan
melaksanakan gagasan kita.
1. Imbauan
rasional
Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa manusia pada
dasarnya makhluk rasional. Contoh pesan : “Datanglah ke posyandu untuk
imunisasi anak Anda. Imunisasi melindungi anak dari penyakit berbahaya”. Para
ibu mengerti isi pesan tersebut, namun kadang tidak bertindak karena keraguan.
2. Imbauan
emosional
Kebanyakan perilaku manusia, terutama kaum ibu, lebih
berdasar pada emosi daripada hasil pemikiran rasional. Beberapa hal menunjukan
bahwa pesan dengan menggunakan imbauan emosional lebih berhasil dibanding
dengan imbauan dengan bahasa rasional. Contoh : “Diare penyakit berbahaya,
merupakan penyebab kematian bayi. Cegahlah dengan stop BAB sembarangan”.
Kombinasikan hubungan gagasan dengan unsur visual dan nonverbal dalam poster,
misalnya dengan gambar anak balita sakit, kemudian tertera pesan, “Lindungi
anak Anda”.
3. Imbauan
ketakutan
Hati-hati menggunakan imbauan dengan pesan yang
menimbulkan ketakutan. Pesan ini akan efektif bila digunakan pada orang yang
memiliki tingkat kecemasan tinggi. Namun, sebagian orang yang mempunyai
kepribadian kuat justru tidak takut dengan imbauan semacam ini.
4. Imbauan
ganjaran
Pesan dengan imbauan ganjaran dimaksudkan menjanjikan
sesuatu yang diperlukan dan dinginkan oleh si penerima pesan. Teknik semacam
ini cukup masuk akal karena pada kenyataannya orang akan lebih banyak mengubah
perilakunya bila akan memperoleh imbalan (terutama materi) yang cukup.
5. Imbauan
motivasional
Pesan ini dengan menggunakan bahasa imbauan motivasi
yang menyebtuh sisi internal penerima pesan. Manusia dapat digerakan lewat
dorongan kebutuhan biologis seperti lapar, haus, keselamatan, tetapi juga lewat
dorongan psikologis seperti kasih sayang, keagamaan, prestasi, dan lain-lain.
g. Beberapa
Media Grafis
Media grafis adalah penyajian visual dua dimensi yang
dibuat berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar dan sangat bermanfaat.
Media grafis sangat efektif sebagai media penyampaian pesan.
a. Poster
Poster adalah sehelai kertas atau papan
yang berisikan gambar-gambar dengan sedikit kata-kata. Poster merupakan pesan
singkat dalam bentuk gambar dnegan tujuan memengaruhi seseorang agar tertarik
atau bertindakan pada sesuatu. Makna kata-kata dalam poster harus jelas dan
tepat serta dapat dengan mudah dibaca pada jarak kurang lebih enam meter.
Poster biasanya ditempelkan pada suatu tempat yang mudah dilihat dan banyak
dilalui orang misalnya di dinding balai desa, pinggir jalan, papan pengumuman,
dan lain-lain. Gambar dalam poster dapat berupa lukisan, ilustrasi, kartun,
gambar atau foto.
Poster terutama dibuat untuk memengaruhi
orang banyak dan memberikan pesan singkat. Oleh karena itu, cara pembuatannya
harus menarik, sederhana, dan hanya berisikan satu ide atau satu kenyataan
saja. Poster yang baik adalah poster yang mempunyai daya tinggal lama dalam
ingatan orang yang melihatnya serta dapat mendorong untuk bertindak. Poster
tidak dapat memberi pelajaran dengan sendirinya karena keterbatasan kata-kata.
Poster lebih cocok digunakan sebagai tindak lanjut dari suatu pesan yang sudah
disampaikan beberapa waktu yang lalu. Dengan demikian poster bertujuan untuk
mengingatkan kembali dan mengarahkan pembaca ke arah tindakan tertentu sesuai
dengan apa yang diinginkan oleh komunikator.
Berdasarkan isi pesan, poster dapat
disebut sebagai thematic poster, tactical poster, dan practical poster.
Thematic poster yaitu poster yang menerangkan apa dan mengapa, tactical poster
menjawab kapan dan dimana; sedangkan practical poster menerangkan siapa, untuk
siapa, apa, mengapa, dan dimana.
Syarat-syarat yang
perlu diperhatikan dalam pembuatan poster :
1.
Dibuat dalam tata letak yang menarik, misal besarnya
huruf, gambar, dan warna yang mencolok.
2.
Dapat dibaca (eye cather) orang yang lewat.
3.
Kata-kata tidak lebih dari tujuh kata.
4.
Mengunakan kata yang provokatif, sehingga menarik
perhatian.
5.
Dapat dibaca dibaca dari jarak enam meter.
6.
Harus dapat menggugah emosi, misal dengan menggunakan
faktor ini, bangga, dan lain-lain.
7.
Ukuran yang besar: 50 x 70 cm, kecil : 35 x 50 cm.
Dimana tempat
pemasangan poster :
1.
Poster biasanya dipasang ditempat-tempat umum dimana
orang sering berkumpul, seperti halte bus, dekat pasar, dekat toko/warung.
2.
Persimpangan jalan desa, kantor kelurahan, balai desa,
posyandu, dan lain-lain.
Kegunaan poster :
a.
Memberikan peringatan, misalnya tentang selalu mencuci
tangan dnegan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan.
b. Memebrikan informasi,
misalnya tentang pengolahan air dirumah tangga.
c.
Memberikan anjuran, misalnya pentingnya mencuci
makanan mentah dan buah-buahan dengan air bersih sebelum makan.
d. Mengingatkan kembali,
misalnya cara mencuci tangan yang benar.
e.
Memberikan informasi tentang dampak, misalnya
informasi tentang dampak buang air besar (BAB) dijamban.
Keuntungan poster :
1.
Mudan dibuat.
2.
Singkat waktu dalam pembuatannya.
3.
Murah.
4.
Dapat menjangkau orang banyak.
5.
Mudah menggugah orang banyak untuk berpartisipasi.
6.
Bisa dibawa kemana-mana.
7.
Banyak variasi.
Cara pembuatan poster
:
a.
Pilih subjek yang kan dijadikan topik, misal kesehatan
lingkungan, sanitasi, PHBS, dan lain-lain.
b.
Pilih satu pesan kesehatan yang terkait, misal
keluarga yang menggunakan jamban untuk BAB.
c.
Gambarkan pesan tersebut dalam gambar.
d.
Pesan dibuat menyolok, singkat, cukup besar, dan dapat
dilihat pada jarak enam meter, misalnya “Stop buang air besar sembarangan !”.
e.
Buat dalam warna yang kontras sehingga jelas terbaca,
misal kombinasi warna merah yang tidak bertabrakan yaitu biru tua-merah,
hitam-kuning, merak kuning, biru tua-biru muda.
f.
Hindarkan tambahan-tambahan yang tidak perlu ditulis.
g.
Gambar dapat sederhana.
h.
Perhatikan jarak huruf, bentuk dan ukuran.
i.
Tes/uji poster pada teman, apakah poster sudah bisa
memcapai maksudnya atau tidak.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain
poster. Poster secara umum terdiri atas beberapa bagian, yaitu :
1. Judul
(head line)
2. Subjudul
(sub head line)
3. Body
copy/copy writing, dan
4. Logo dan
indentitas.
Judul
harus dapat dibaca jeas dari jarak enam meter, mudah dimengerti, mudah diingat.
Subjudul harus menjelaskan, melengkapi, dan menerangkan judul secara singkat.
Poster juga memerlukan adanya ilustrasi. Ilustrasi ini harus atraktif
berhubungan erat dengan judul dan terpadu dengan penampilan secara keseluruhan.
Warna merupakan salah satu unsur grafis. Pengertian warna bisa meliputi warna
simbolik atau rasa kejiwaan. Warna dapat dibagi menjadi tiga kelompok menurut
jenisnya, yaitu warna primer (merah, kuning, biru), warna sekunder (hijau,
kuning, lembayung), dan warna tersier (cokelat kemerahan, cokelat kekuningan,
cokelat kebiruan). Warna sebagai simbol mempunyai arti tersendiri. Misalnya,
merah berarti berani, putih berarti suci, kuning berarti kebesaran, hitam
berarti abadi, hijau berarti harapan, dan merah muda berarti cemburu. Mengenal
rasa warna dapat diartikan sebagai berikut merah adalah warna panas, biru
adalah warna dingin, dan hijau adalah warna sejuk.
b. Leaflet
Leaflet
adalah selembaran kertas yang berisi tulisan dengan kalimat-kalimat singkat,
padat, mudah dimengerti, dan gambar-gambar yang sederhana. Leaflet atau sering
juga disebut pamflet merupakan selembar kertas yang berisi tulisan cetak
tentang suatu masalah khusus untuk sasaran dan tujuan tertentu. Ukuran leaflet
biasanya 20 x 30 cm yang berisi tulisan 200 – 400 kata. Ada beberapa leaflet
yang disajikan secara berlipat.
Leaflet
digunakan untuk memberikan keterangan singkat tentang suatu masalah, misalnya
deskripsi pengolahan air ditingkat rumah tangga, deskripsi tentang diare serta
pencegahannya, dan lain-lain. Isis harus bisa ditangkap dnegan sekali baca.
Leaflet dpat diberikan atau disebarkan pada saat pertemuan-pertemuan dilakukan
seperti pertemuan Focus Group Discussion (FGD), pertemuan posyandu, kunjungan
rumah, dan lain-lain.
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam membuat leaflet :
1.
Tentukan kelompok sasaran yang ingin dicapai.
2.
Tuliskan apa tujuannya.
3.
Tentukan isi singkat hal-hal yang mau ditulis dalam
leaflet.
4.
Kumpulan tentang subje yang kaan disampaikan.
5.
Buat garis-garis besar cara penyajian pesan, termasuk
didalamnya bagaimana bentuk tulisan gambar serta tata letaknya.
6.
Buatkan konsepnya. Konsep dites terlebih dahulu pada
kelompok sasaran yang hampir sama dengan kelompok sasaran, perbaiki konsep, dan
buat ilistrasi yang sesuai dengan isi.
Kegunaan leaflet :
1. Mengingat
kembali tentang hal-hal yang telah diajarkan atau dikomunikasikan.
2. Diberika
sewaktu kampanye untuk memperkuat ide yang telah disampaikan.
3. Untuk
memperkenalkan ide-ide baru kepa orang banyak.
Keuntungan leaflet :
1. Dapat
disimpan lama
2. Sebagai
referensi
3. Jangkauan
dapat jauh
4. Membantu
media lain
5. Isi dapat
dicetak kembali dan dapat sebagai bahan diskusi
c. Papan Pengumuman
Papan
pengumuman biasanya dibuat dari papan dengan ukuran 90 x 120 cm, biasa dipasang
di dinding atau ditempat tertentu seperti balai desa, posyandu, masjid,
puskesmas, sekolah, dan lain-lain. Pada papan tersebut gambar-gambar atau
tulisan-tulisan dari suatu topik tertentu.
Bahan yang diperlukan :
· Tripleks
ukuran 90 x 120 cm
· Kertas
berwarna
· Gunting
· Paku
payung
·
Huruf-huruf atau tulisan
· Koleksi
gambar-gambar dalam segala ukuran
Cara membuat papan
pengumuman :
1. Ambil kayu
tripleks (plywood).
2. Warnai
bila diperlukan.
3. Beri
bingkai pada sekeliling papan.
4. Paku di
dinding gedung atau di tempat yang memungkinkan.
5. Letakkan
pada tempat atau lokasi yang mudah dilihat.
6. Tuliskan
judul yang menarik.
Cara menggunakan
papan pengumuman :
1.
Tentukan jangka waktu pemasangan sehingga tidak
membosankan, misal 1-2 minggu.
2.
Gunakan pada peristiwa-peristiwa tertentu saja, misal
pada waktu pertemuan besar atau hari libur.
3.
Cari sumber untuk melengkapi tampilan, misal dari
perpustakaan, kantor humas, dan lain-lain.
Keuntungan papan
pengumuman :
1. Dapat
dikerjakan dengan mudah.
2. Merangsang
perhatian orang.
3. Menghemat
waktu dan membiarkan pembaca untuk belajar masalah yang ada.
4. Merangsang
partisipasi.
5. Sebagai
review atau pengingat terhadap bahan yang pernah diajarkan.
d. Gambar Optik
Gambar optik mencakup foto, slide, film, dan
lain-lain.
a. Foto
Foto
sebagai bahan untuk alat peraga digunakan dalam bentuk album ataupun
dokumentasi lepasan. Album merupakan foto-foto yang isinya berurutan,
menggambarkan suatu cerita, kegiatan, dan lain-lain. Album ini bisa dibawa dan
ditunjukkan kepada masyarakat sesuai dengan topik yang sedang didiskusikan.
Misalnya album foto yang berisi kegiatan-kegiatan suatu desa untuk mengubah
kebiasaan buang air besarnya menjadi di jamban. Dokumentasi lepasan yaitu
foto-foto yang berdiri sendiri dan tidak disimpan dalam bentuk album.
Menggambarkan satu pokok persoalan atau titik perhatian. Foto ini digunakan
biasanya untuk bahan brosur, leaflet, dan lain-lain.
b. Slide
Slide pada umumnya digunakan untuk sasaran kelompok.
Penggunaan slide cukup efektif karena gambar atau setiap materi dapat dilihat
berkali-kali dan dibahas lebih mendalam. Slide sangat menarik, terutama bagi
kelompok anak sekolah dibanding dengan gambar, leaflet, dan lain-lain.
c. Film
Film merupakan media yang bersifat menghibur,
disamping dapat menyisipkan pesan-pesan yang bersifat edukatif. Sasaran media
ini adalah kelompok besar dan kolosal.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah diatas adalah sebagai
berikut :
1. Bahwa peranan
pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga
perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilia-nilai
kesehatan.
2. konsep pendidikan
kesehatan adalah proses belajar pada individu, kelompok stsu msdyarakat dari
tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu
mengatasi masalah-masalah kesehatannya sendiri menjadi mampu, dan lain
sebagainya.
3. Bloom (1908) seorang
ahli psikologi pendidikan membagi perilaku menjadi 3 domain yaitu :
·
Pengetahuan
·
Sikap atau tanggapan
·
Praktek
Bentuk perilaku kesehatan :
·
Pasif, artinya mengetahui namun belum melaksanakan
·
Aktif, artinya mengetahui dan melaksanakannya serta
dapat diobservasi
B. .Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan adalah bahwa pendidikan kesehatan itu perlu
untuk diterapkan dalam masyarakat Indonesia. Dengan adanya pendidikan
kesehatan, masyarakat Indonesia dapat bertindak sesuai dengan ketentuan dalam
kesehatan sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit-penyakit yang
membahayakan diri sendiri.
Meskipun hasilnya akan terlihat dalam beberapa tahun kedepan, namun pendidikan
ini baik adanya untuk membantu masyarakat Indonesia terlepas dari serangan
penyakit serta terhindar dari tindakan pencegahan yang membahayakan.
DAFTAR PUSTAKA
http://siskaningtyasp.blogspot.co.id/2014/04/makalah-tentang-pendidikan-kesehatan.html
http://mhs.blog.ui.ac.id/putu01/2012/06/01/perilaku-masyarakat-terhadap-kesehatan/
http://luv2dentisha.wordpress.com/2010/05/08/domain-perilaku/
http://ciciimutblog.blogspot.com/2011/11/pendidikan-dan-perilaku/
Prof. Dr. Soekidjo
Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei.
Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
Mubarak, Wahit Iqbal. 2011. Promosi Kesehatan
untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba Medika
Notoatmodjo,soekidjo. Promosi Kesehatan Teori
dan Aplikasi. Renekacita. Depok. 2010
Comments
Post a Comment